Photobucket  WELCOME TO SAHABAT MUSEUM  Photobucket

batmus' posts with tag: sahabatmuseum

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag sahabatmuseum
Blog EntryHappy B'day Adep, Ketua Komunitas Sahabat MuseumAug 19, '08 9:43 PM
for everyone

Happy b'day to Adep
founder,owner, chairman alias Ketua Komunitas Sahabat Museum

wishing you best of love,life, health & happiness

semoga panjang umur,sehat selalu, murah rejeki,enteng jodoh
dan makin sukses untuk batmus di ke depan harinya
amin

salam,
kakak deedee

 


ddd
dThumbnaild
ddd

Day – 2, 25 Juni 2006, Tour Ke Keraton, Kerajaan & Kesultanan Cirebon

...lanjutan cerita sebelumnya

Okay, peserta dibagunkan oleh morning call dari hotel pada pukul 05.30 pagi, sarapan di hotel, check out, photo bersama didepan lobby hotel dengan kaos PTD yg dikenakan dan langsung menuju bus untuk melakukan perjalanan pertama ke Keraton Kasepuhan, dengan dipandu oleh pemandu setempat yang ditempatkan di masing2 bus, yaitu Pak Amin & Pak Sujana.


KeratonKasepuhan
Keraton Kasepuhan merupakan keraton yang cantik, dengan design gapura yang seperti gapura Bali, dan mulai dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506, beliau bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon.
Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Dan sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Putri itu cantik rupawan berbudi luhur dan bertubuh kokoh serta dapat mendampingi suami, baik dalam bidang Islamiyah, pembina negara maupun sebagai pengayom yang menyayangi rakyatnya.
Ahkirnya beliau pada tahun 1549 wafat dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua, dari pengorbanan tersebut akhirnya nama beliau diabadikan dan dimulyakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.
Didalam keraton Kasepuhan terdapat benda pusaka yang sangat menarik yaitu Kereta Singa Barong yang dikeramatkan. Dulunya, kereta kencana ini dipakai untukmembawa Sultan dn keluarganya bepergin, tapi sejak tahun 1942, kereta ini sudah tidak boleh dipakai lagi, dan tiap2 tanggal 1 Syawal dikeluarkan untuk dimandikan. Selain kereta kencana, di keraton ini terdapat banyak kermik2 kuno yang indah, trus ukiran Lingga & Yoni, yaitu lambang kejantanan & kesuburan. Selanjutnya kami mengunjungi Keraton Kanoman.

Keraton Kanoman
Keraton Kanoman didirikan oleh Sultan Kanoman I (Sultan Badridin) turunan ke VII dari Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) pada tahun 510 tahun Saka atau tahun 1588 Masehi, Adapun prasasti tahun berdirinya Keraton Kanoman terdapat pada pintu Pandopa Jinem yang menuju keruangan Perbayaksa, dipintu tersebut terpahat gambar angka Surya Sangkala & Chandra Sangkala. Jadi terbaca tahun 1510 Saka atau tahun 1588 Masehi. Lambang angka tahun terdiri dari 2 macam yaitu Surya Sangkala dengan gambar matahari dan Chandra Sangkala dengan gambar Bulan.

Keraton ini usianya lebih muda dari Keraton Kasepuhan. Kanoman berasal dari kata "anom" jang berarti "muda". Tetapi sungguh disayangkan, untuk bisa masuk kedalan keraton ini, kami harus melewati pasar yang sempit dan kumuh, sangat disayangkan untuk sebuah tempat yang sangat bersejarah. Di keraton ini, kami dipandu oleh beberapa pemandu yang memakai baju adat jawa plus belangkon dan peserta dibagi menjadi beberapa bagian. Disini kami kesulitan mengumpulkan peserta karena peserta menyebar di beberapa bagian, sedangkan tempatnya sangat luas buat ukuran Keraton, sehingga dengan bersusah payah kami mengumpulkan peserta untuk kembali ke starting point semula. Pheewww…

Puas melihat2 tempat dan mendengar cerita dari pemandu setempat serta berphoto berpuluh2 kali, kami melanjutkan perjalanan ke keraton berikutnya, Keraton Kacirebonan


Keraton Kacirebonan.
Keraton Kecirebonan dibangun pada tanggal 1800, Keraton ini banyak menyimpan benda-benda peninggalan sejarah seperti Keris Wayang perlengkapan Perang, Gamelan dan lain-lain.
Seperti halnya Keraton Kesepuhan dan Keraton Kanoman, Keraton Kecirebonan pun tetap menjaga, melestarikan serta melaksanakan kebiasaan dan upacara adat seperti Upacara Pajang Jimat dan sebagainya.
Tidak banyak yang bisa dilihat di Keraton ini karena koleksinya memang tidak banyak, tapi yang bikin menarik adalah tawaran dari Pak Sujana, pemandu setempat kami untuk bertemu dengan Sultan dan permaisuri nya yang tentu saja kami sambut dengan gembira.

Ketemu Sultan Cirebon

Dengan beberapa peraturan protokol ini itu, kami hanya dipersilahkan untuk bertatap muka, karena satu dan lain hal, kami tidak boleh berbicara ataupun bertanya ini itu kepada sang Sultan, dan kamipun menanti dengan tegang sang Sultan datang keperaduan. Suasana mendadak sunyi senyap, tidak ada yg berani bercanda, bercerita ribut ataupun photo2, semuanya diam membisu duduk lesehan dikarpet depan ruang tamu Keraton menanti Sultan yang tak kunjung tiba. Pokoknya atmospherenya beda banget deh !!!

Akhirnya setelah beberapa lama menanti, Sang Sultan pun tiba dengan sang permaisuri, dan biarpun suasana berlangsung sangat formal dan penuh kebisuan, kami di izinkan untuk bersalaman dengan sultan dan permaisuri dan juga photo bersama. Wow, kapan lagi bisa photo dengan keturunan raja2 kuno ???

Balai Kota Cirebon
Lokasi kunjungan berikutnya adalah Balai Kota Cirebon, tapi maap, gue nggak punya data apapun mengenai balai kota ini karena ketika lagi diterangkan mengenai gedungnya, gue malah sibuk memperhatikan dan photo2 dengan para polisi militer dengan seragam nya yang gagah2, huehehe

Pulangnya kami sempet bingung karena ketika kami hendak berangkat ke lokasi kunjungan berikutnya, salah satu peserta kami yang bernama Danan “missing in action” alias nggak ketemu. 15 menit muter2 kemana2, masih blom ada hasil. Di telp ke HP nya, nggak aktif. Dicari ke dalem balai kota lagi, nggak ada. Di mesjid, nggak ada. Di toilet, nggak ada. Disekitar gedung2 sebelah, nggak ada. Akhirnya kami memutuskan, bahwa rombongan yang dipimpin oleh Adep tetap harus berangkat ke lokasi berikutnya sementara gue, Ninta, Ica & Joe stand by mencari si anak hilang ini. Eh, baru aja bus nya mau berangkat, tau2nya si bocah gendeng ini muncul dengan senyum tanpa dosa, katanya sih dia cari ATM, tapi kalo kata yg lain, dia tuh sebenernya “blind date” dengan cewek Cirebon setempat, hehe.

Danan sempet kita marahin, karena sebenernya sih nggak apa2 kalo mau memisahkan diri sebentar asalkan memberitahu panitia, karena semua orang jadi repot jadinya. Untung polisi2 militer di balai kota yang membantu mencari disana baik2, dan untungnya dia cepet ketemu, karena konon menurut cerita Pak Amin guide kami, dulu ada kejadian serupa anak hilang, tapi anehnya, itu anak sebenernya cuma tidur sebentar di bangku sebelah bus, ketinggalan bus dan hilang selama ber jam2, dan begitu diketemukan, ternyata dia ditemukan didapur sebuah keraton pada malam harinya dan si anak tersebut ngak ngerti kenapa tau2 dia ada di dalem keraton tersebut..hiii...syeyeeeemmm...

Dan setelah Danan dijewer oleh Ibu Wisda & dimarahin juga sama Pak Niko bule kamipun melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya, Tamansari Goa Sunyaragi.


Tamansari Goa Sunyaragi
Anyway, setelah kunjungan ke Balai Kota ini selesai, kami melanjutkan kunjungan kami ke lokasi terakhir, Tamansari Goa Sunyaragi.

Goa yg mempunyai luas 1,5 H ini memiliki banyak pintu2 yang sekilas tampak seperti rumah sesat di dufan. Kita keluar masuk goa nya harus dengan rombongan, karena kalo enggak, bisa nyasar2 didalem goa yang gelap gulita dan masuknya harus memakai lilin atau senter tersebut

Lebih kurang 5 Km ke arah barat dari jantung kota Cirebon, tepatnya dikelurahan Graksan, terhampar bangunan yang unik. Areal bangunan ini dikenal sebagai Tamansari Gua Sunyaragi. Petilasan dengan arsitektur estetik bernilai historis, serta mengungkap nilai-nilai spritual yang merupakan salah satu warisan budaya masa lalu yang terdapat di wilayah Cirebon, Pembangunannya dilakukan pada tahun 1703, sedangkan gagasannya berasal dari benak Sang Patih Keraton Kasepuhan yang bernama Pangeran Arya Cirebon. Tokoh ini dikenal sebagai peminta sejarah dan kebudayaan. Karya legendaris lainnya yaitu kitab sejarah "Purwaka Caruban" yang berhasil disusunnya pada tahun 1720. Sunya berarti sepi, dan Raga atau Ragi berarti jasmani.

Taman Sunyaragi berasal dari kata ”sunya” yang berarti sepi dan ”ragi” yang berarti raga atau jasad. Taman ini berada di dalam kekuasaan Keraton Kasepuhan. Walaupun berubah -ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Taman Sunyaragi adalah taman tempat para pembesar keraton dan prajurit keraton bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan.
Taman Sunyaragi terdiri dari 12 bagian: (1)bangsal jinem, tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit berlatih; (2) goa pengawal, tempat berkumpul para pengawal sultan; (3) kompleks Mande Kemasan (sebagain hancur); (4) gua Pandekemasang, tempat membuat senjata tajam; (5) gua Simanyang, tempat pos penjagaan; (6) gua Langse, tempat bersantai; (7) gua peteng, tempat nyepi untuk kekebalan tubuh; (8) gua Arga Jumud, tempat orang penting keraton; (9) gua Padang Ati, tempat bersemedi; (10) gua Kelanggengan, tempat bersemedi agar langgeng jabatan; (11)gua Lawa, tempat khusus kelelawar; (12) gua pawon, dapur penyimpanan makanan.
Mengamati Sunyaragi kita bisa melihat rangkaian sejarah sesuai dengan masanya. Dari data penelitian, konstruksinya menunjukkan keunikan, setiap kurun waktu selalu ada perubahan bentuk menurut selera serta kebutuhan sultan yang memerintah. Ini juga menyangkut dengan fungsi dari tempat ini. Lama-kelamaan, Tamansari Gua Sunyaragi berfungsi ganda. Bukan hanya digunakan sebagai pesangrahan saja, tapi juga untuk kegiatan politik perlawanan.
Simbol perlawanan itu dapat terlihat pada masa pemerintahan Sultan Matangaji Tajul Arifin, tempat ini dijadikan sebagai tempat pembuatan senjata dan pusat latihan olah keprajuritan kerajaan. Itu sebabnya, pada masa pemerintahan Sultan Adiwijaya pada tahun 1852, Tamansari Gua Sunyaragi mengalami renovasi, setelah sebelumnya dihancurkan oleh Belanda.
Untuk perbaikan itu, Sultan menugaskan arsitek Cina. Konon, arsitek itu disekap dan dibunuh agar rahasia Gua Sunyaragi tak bocor ke tangan Belanda. Chay Khong dan Sam Pho Tia Jin juga sering dihubung-hubungkan dengan legenda Sunyaragi. Apalagi, kompleks ini juga menyimpan bukti ada situs yang diberi patok “Kuburan Cina”. Di dekatnya terdapat pohon beringin yang umurnya sudah ratusan tahun. Saking tuanya, beberapa batangnya perlu disangga dengan tiang beton dan besi

Pokoknya, secara keseluruhan, Taman Sunyaragi ini terkesan angker sekaligus indah dan bisa ditebak, semua banci tampil BatMus mulailah menyebar disegala penjuru taman untuk mendapatkan pose2 yg menarik didalam, luar, maupun sekitar gue. Ciamiiikkk
Akhirnya, ketika kami semua sudah puas mendengarkan cerita sekaligus mengelilingi dan berphoto2 di taman bersejarah ini, kamipun pamit pulang kepada tuan rumah untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir, batik Trusmi.

Batik Trusmi, Batik Eksotik dari Desa Trusmi

Tiba di daerah pengrajin batik trusmi, kami mendatangi salah satu rumah pengrajin batik tersebut dan sebagian besar wanita dengan kalap nya memborong kain, dari daster, baju koko, baju kondangan, sampe selesang. Dan gossipnya ada yg sampe beli kain batik untuk akad nikah looohh *lirik sapa yaaahh*

Bagi kolektor batik, nama desa Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon, Kecamatan Weru, Cirebon tak dapat dipinggirkan. Desa yang terletak sekitar lima kilometer dari pusat kota ini sejak puluhan tahun lalu telah menjadi sentra bisnis batik. Sayang, mereka harus kedodoran mencari para pembatik lokal.

Kisah membatik desa Trusmi berawal dari peranan Ki Gede Trusmi. Salah seorang pengikut setia Sunan Gunung Jati ini mengajarkan seni membatik sembari menyebarkan Islam. Sampai sekarang, makam Ki Gede masih terawat baik, malahan setiap tahun dilakukan upacara cukup khidmat, upacara Ganti Welit (atap rumput) dan Ganti Sirap setiap empat tahun.

Kelihaian membatik itu ternyata memberi berkah di kemudian hari. Batik Trusmi berhasil menjadi ikon batik dalam koleksi kain nasional. Seolah kain batik dari desa ini tak masuk dalam keluarga batik Cirebon. Batik Cirebon sendiri termasuk golongan Batik Pesisir.

Usaha yang bermula dari skala rumahan lama kelamaan menjadi industri kerajinan yang berorientasi bisnis. Produk batik Trusmi bukan sekadar memenuhi kebutuhan lokal, tetapi sebagian perajin mengekspor ke Jepang, Amerika, dan Belanda.
Masa keemasan kerajinan batik di daerah ini terjadi pada kurun waktu 1950-1968. Tak heran bila sebuah koperasi di tingkat lokal, Koperasi Batik Budi Tresna yang menaungi perajin batik, sanggup membangun gedung koperasi yang sangat megah. Tak ketinggalan, sejumlah sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP hingga SLTA.

Di masa kini, peran alm. H. Masina tak bisa dilepaskan. Tokoh ini dikenal sebagai pengembang bisnis batik di Trusmi. Itu sebabnya ia pun didaulat untuk memimpin Koperasi Batik Budi Tresna.

Beberapa tahun lalu, alm H. Masina sempat mengeluhkan makin sulitnya mencari orang lokal yang mau berprofesi sebagai pembatik yang terampil. Penduduk sekitar lebih suka kerja ”kantoran” yang tak butuh ketrampilan tangan. Alhasil para pemilik industri batik mencari tenaga pembatik dari daerah lain, seperti Yogyakarta, Solo, atau Pekalongan.
Bila dibanding dengan batik Yogyakarta, Solo atau Pekalongan, batik Trusmi punya ciri yang berbeda dan khas. Perbedaan yang paling kentara adalah dari segi warna dan motif. Batik Trusmi tampil dengan warna yang cerah dan ceria. Batik Yogyakarta atau Solo didominasi dengan warna gelap, biasanya coklat tua atau hitam.

Secara umum, batik asal Cirebon muncul dengan warna-warna kain yang lebih cerah dan berani. Warna-warna cerah seperti merah, merah muda, biru langit, hijau pupus, dan tentu saja ini bisa kita lihat dalam kain batik Trusmi. Selain itu, gambar motifnya juga lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat.
Begitu pula dengan motif yang menghiasi kain. Motif batik Trusmi berbeda dengan motif batik tradisional gaya Yogyakarta dan Solo. Pengaruh ini diakibatkan dengan letak geografis Cirebon yang ada di kawasan pantai, sehingga motif batik asal kota udang ini disebut motif Pesisiran. Dalam kain batik ini kita bisa jumpai gambar motifnya yang lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat.

Salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif Mega Mendung, yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama. Motif Mega Mendung tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon

Sayang seribu sayang, dikarenakan keterbatasan waktu, kami hanya bisa mampir di satu tempat pengrajin, sehingga nggak banyak pilihan dan terpaksa kami hanya membeli dari satu tempat saja. Tapi beberapa teman yang sudah selesai belanja disini mulai ber ekspansi ketempat2 lain dan belanja2 lagi, sehingga dua ”oknum” peserta yg bernama Vari & Fide sempet ketinggalan bus karena sibuk belanja, hehe.

Otw back to jakarta, kami mampir untuk makan malam hidangan laut di restaurant Cipta Pesona dan sebelum kembali ke bus, panitia mengucapkan sepatah dua patah perpisahan dan setibanya di lokasi finish di Parkir Timur Senayan pada sekitar pukul 11.00 malam, ke 21 taksi blue bird yg di order dan beberapa mobil penjemput sudah stand by untuk memulangkan peserta kerumah masing.

Gue, Adep, Joe & Ican mampir dulu di tenda gaul melawai untuk makan bubur ayam midnite karena laper lagi booowww...
Oh well, capek banget dua hari satu malem membawa rombongan peserta yang ”nakal2” berkeliling wisata sejarah di kota Cirebon, akan tetapi, hati tetap riiang gembira karena bisa bertemu dengan teman2 lama, berkenalan dengan teman2 baru, makan enak, photo2 cantik, dan yang terpenting, puas bisa sekali lagi menjelajah satu tempat baru di indonesia.

Okay Medan, bersiap2 lah, karena kami akan datang bulan depan !!!

Photo2 bisa dilihat di :

Cerita disadur dari berbagai sumber :
o karangan penulis semata
o pemandu setempat
o cerita sejarah
o internet









Photobucket

Photobucket


Photobucket

Photobucket

ddd
dThumbnaild
ddd


Tanggal 24-25 Juni 2006 kemaren, gue ikutan acara Plesiran Tempo Doeloe (PTD) nya Sahabat Museum (BatMus) ke Cirebon – Linggarjati. Berikut adalah sekilas Laporan Pandangan Mata yang “ringan”, karena cerita “berat dan berbobot penuh warna dan nuansa sejarah” akan ditulis dan di positng oleh penulis BatMus, Irma Agustina.

So get your tea/coffee ready and enjoy the story & pictures...

Day-1, Kota Cirebon, Rumah Perjanjian Linggarjati

PTD Cirebon-Linggarjati adalah PTD yang ke 31 BatMus, setelah kurang lebih 4 tahun mengadakan acara serupa, wisata sejarah santai keliling kota2 bersejarah di Indonesia. Peserta nya kali ini berjumlah 70 orang (termasuk panitia, gue, adep, ninta, ican, joe, pak amran dan bu wisda dari Yayasan Sahabat Museum). Semua peserta rombongan berkumpul di Parkir Timur Senayan pada pukul 06.30 pagi, dan seperti biasa, sarapan dulu makan nasi uduk nya bu Teddy di lokasi TKP. Ninta & Niken yang udah sampe duluan sibuk ngabsen peserta & bagiin name tag tanda pengenal peserta.

Peserta yang berpartisipasi kali ini juga hampir semuanya adalah angota2 lama & loyal BatMus yang sudah sering ikutan kami bepergian keliling Jakarta dan Indonesia, menikmati cerita sejarah masa lalu dengan suasana tempo doeloe.

Pertama2 dateng, gue udah noticed ada biang huru hara, Tiwi, Elvi, Anne dan kwartet Elida, Ria, Eko, Kemala dan gue pikir, uh, bakalan seru nih ada pasukan hore hore ditambah lagi korban abadi kita, bang Joe dan bang Ican yang selalu pasrah di celaa dan digoda selama acara. Tau2 disebelah kanan gue liat ada bule heavy smoker yang pake baju ngejreng oranye JAKMANIA, oh no, itu kan Pak Niko Van Horn, beliau adalah orang Belanda, kurator yang bekerja membantu mencari serta menerjemahkan arsip2 djadoel Museum Bank Mandiri yang orangnya angker, galak & berwibawa. Kami berkenalan dengan beliau pada saat menggelar acara PTD Gedong MHM – Station BEOS (Januari 2005)


Tak lama kemudian datanglah BatMus Idol, Mbak Ninik dan Mas Agni alias Mama dan Papa Oen, penyanyi tetap BatMus yang udah kita kontrak seumur hidup untuk menyanyi disetiap kegiatan BatMus yang pake musik, hehe. Papa Oen sibuk menginterview si Arca gaul, Adep untuk Radio Netherlands nya beliau.

Trus dikejauhan gue liat mbak Hera & Mbak Ade ngobrol dipojokkan, disebelahnya ada moderator kita Galuh, MayaSari & yayangnya Rahmat, Oma Anna, Adhit jabrik dan mamanya tante Tuti, trus ada member of the year mbak Sri Nazulina dan ibunda Djuliah, pasangan berbahagia Irma dan Wahyudi, Ika, Atun, Dini Cepu, trus geng Kedutaan Amerika, Suri & Putri, Theresia & Indie yang sering liat hantu, Vari adik iparnya Aryo Sapi Djadoel dan temannya Fide, trus ada MayaHadi minus dua Kwek Kwek nya, Iye TPI dan trio tralala Ela, Nani, Tetty, lalu mbak Lanny & putrinya Elsa, Rony Baskoro & istrinya yg lagi hamil 4 bulan Lina, ada mbak Nancy temannya Oma Anna & anaknya Aristo, pasangan mesra Mbak Cicik & Mas Nizar, Anastasia Nani, Tetty Ganarsih, Ida, Shita, trus siapa lagi yah, kalo nggak salah ada yg baru seperti Pak Santoso & anaknya Ilham, trus Ai dari majalah Tamasya dan juga Danan si Kutilang (kurus tinggi langsing)

Anyway, by the way, busway
Ketika waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi dan semua peserta sudah komplit, gue, Adep & Ninta membuka acara sambil membangikan list peserta bus 1 dan bus 2 juga pembagian kamar dan room mate di hotel Santika Cirebon, lalu berangkatlah kami menuju TKP pertama, rumah sejarah perundingan Linggarjati.

Beberapa jam diperjalanan otw to Linggarjati, sekitar jam 10.00 pagi kami singgah di toilet VIP untuk sekedar berhenti bagi yang mau ke toilet. Akan tetapi bus gue berhenti setengah jam sebelum tiba disana karena Adhit dan beberapa temen udah nggak tahan mau ke toilet, dan kemudian kami bergabung dengan bus 2 untuk ngaso selama setengah jam di toilet VIP tersebut, dan dengan noraknya kami berphoto di depan plang toilet, kekeke, kapan lagi photo dengan tulisan “Toilet VIP” ???

Pukul 12.00 siang, tibalah kami di kota Cirebon.

Kota Cirebon

Kota Cirebon adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini berada di pesisir Laut Jawa, di jalur pantura. Dahulu Cirebon merupakan ibu kota Kabupaten Cirebon, namun kini telah dipindahkan ke Sumber. Cirebon menjadi pusat regional di wilayah pesisir barat Jawa Barat.

Konon, ada jang bilang, nama Cirebon berasal dari kata "Caruban"
jang artinja tempat pertemuan atau persimpangan jalan. Dan ada
yang sangat yakin bahwa nama itu berasal dari kata kata "Carub" yang di dalem bahasa jawa poenja arti = tjampoeran. Mungkin juga nama ini ada unsure pengaruh dari bahasa Sunda karena ada awalan “ci” (yg berarti air atau sungai). Kota Cirebon terdiri atas 5 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah kelurahan.
Cirebon juga disebut dengan nama 'Kota Udang'. Sebagai daerah pertemuan budaya Jawa dan Sunda sejak beberapa abad silam, masyarakat Cirebon biasa menggunakan dua bahasa, bahasa Sunda dan Jawa.
Kota ini mempunyai luas sebesar 37,36 km² dan penduduknya berjumlah sekitar 300.000 jiwa.
Kota Cirebon merupakan pusat industri rokok kepunyaan British-American Tobacco (BAT), salah satu produsen rokok putih terkemuka di dunia.
Di kota Cirebon terdapat tiga kesultanan, yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacerbonan, yang sampai sekarang masih bertahan.
Di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat, terdapat makam Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo, yakni sembilan penyebar agama Islam di Jawa.
Sejarah Kota Cirebon
Menurut Manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pada abad XIV di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Padjadjaran). Dan di pelabuhan ini juga terlihat aktivitas Islam semakin berkembang. Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.
Pada Perkembangan selanjutnya, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi. Pangeran inilah yang mendirikan Kerajaan Cirebon, diawali dengan tidak mengirimkan upeti kepada Raja Galuh. Oleh Raja Galuh dijawab dengan mengirimkan bala tentara ke Cirebon Untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang.
Dengan demikian berdirilah kerajaan baru di Cirebon dengan Raja bergelar Cakrabuana. Berdirinya kerajaan Cirebon menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan pelabuhan Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai kawasan Asia Tenggara

Okay, kami berhenti sebentar untuk makan siang dan shalat zuhur di restaurat Kang Kabayan yang menyajikan masakan Sunda, lalu kami melanjutkan perjalanan ke TKP pertama, rumah perundingan Linggarjati.

Setibanya disana sekitar pukul 15.00 sore, kami berkenalan dengan guide setempat, Pak Saom yang membawa kami berkeliling rumah sambil menceritakan kejadian sejarah yang berlangung disana pada tahun tersebut

SIAPA tidak kenal Linggarjati? Menimbang bahwa kata Linggarjati terpatri pada setiap buku pelajaran sejarah, yang tentunya dibaca oleh setiap anak didik di Indonesia, tidaklah berlebihan bila Linggarjati dikenal secara luas.
KALAUPUN hanya segelintir orang, terutama masyarakat Jawa Barat, yang mengetahui lokasi Linggarjati di Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu soal lain. Kurangnya informasi? Bisa jadi. Ketidakpedulian pada sejarah bangsa? Mungkin juga.
Padahal, tidak sulit untuk menjangkau situs tempat dilangsungkannya Perundingan Linggarjati pada 10-15 November 1946 itu. Bila kita melintas di ruas pantai utara Jawa Barat, cobalah sesekali berbelok arah ke selatan keluar di gerbang Ciperna pada ruas tol Palimanan-Kanci (tol Cirebon).
Ambil arah Kota Kuningan, dan hanya dalam hitungan 20 menit, kita dapat mencapai Kota Kecamatan Cilimus, yang berjarak 25 kilometer dari Kota Cirebon. Setelah jalan mendaki sejauh beberapa kilometer di jalan Desa Linggarjati, yang terletak di kaki Gunung Ciremai (3.078 m), akan kita jumpai kawasan Wisata Linggarjati, situs bangunan Perundingan Linggarjati berdiri.
Kalau ingin menggunakan kendaraan umum dari Jakarta, ada ratusan bus yang melayani jurusan Jakarta-Kuningan PP setiap hari. Berdasar catatan, hampir 20 persen penduduk Kabupaten Kuningan yang berjumlah sekitar 1,3 juta jiwa merupakan kaum perantau.
"MANGGA, silakan masuk," sapa Saom (55), petugas museum yang telah bertugas di Linggarjati sejak 1978. Setelah melewati ruang sekretariat, kita sampai di ruang tengah (aula) bangunan tua seluas 800 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 2,4 hektar ini.
Bangunan tua ini secara keseluruhan terpelihara amat baik, bahkan akhir minggu Januari 2005 baru saja mengalami pengecatan. Bangunan tua berarsitektur tropis Hindia Belanda ini memiliki ventilasi yang memadai dengan jendela-jendela besar bertebaran di berbagai sudut, seakan mengakomodasi udara sejuk Gunung Ciremai dan cahaya matahari.
Saom dengan fasih menjelaskan satu demi satu tokoh yang pernah duduk di jajaran kursi di ruang tengah itu, tatkala perundingan berlangsung 10-15 November 1946.
Dari sisi paling utara, sebuah kursi tunggal ditempati Lord Killearn, tokoh penengah berkebangsaan Inggris. Lalu di kiri-kanan meja yang terletak di depannya, duduk delegasi Indonesia dan Belanda.
Delegasi Indonesia dipimpin Perdana Menteri Sutan Sjarir dengan anggota delegasi Mr Susanto Tirtoprodjo, Dr AK Gani, dan Mr Mohammad Roem. Sementara, delegasi Belanda terdiri dari Dr Van Mook, Mr Van Pool, Dr F De Boer dengan Prof Dr Shermerhorn sebagai ketua delegasi.
Pada sisi lain, di bagian selatan ruang perundingan tersebut, terdapat meja yang konon ditempati Dr J Leimina, Dr Soedarsono, Mr Amir Sjarifoedin, dan Mr Ali Boediardjo, sebagai notulen perundingan. Dalam ruangan itu, diletakkan pula replika lemari kayu serta sebuah diorama perundingan yang dibuat oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jabar (1986).
Terdapat pula dua benda antik yang menyita perhatian, yakni piano bermerek (atau nama pemilik?) bertuliskan H Rawie Osnabrick. Namun, sayang tidak ditemukan tahun pembuatan meski seluruh piano telah digeledah. Juga sebuah jam tower bermerek Junghans, bertuliskan Made in Germany, yang dengan malu-malu diakui Saom merupakan replika.
BOLEH jadi, dua benda itu merupakan pelengkap interior Gedung Museum Perundingan Linggarjati, yang dalam perjalanan sebelumnya pernah menjadi hotel bernama Rustoord (1935), Hotel Hokay Ryokan pada masa penjajahan Jepang (1942), Hotel Merdeka (1945) pascakemerdekaan. Bahkan pernah menjadi SD Negeri Linggarjati (1975) dengan kondisi fisik yang mengenaskan, sebelum resmi menjadi Museum Linggarjati pada tahun 1976.
Pada tahun 1975, mendiang Bung Hatta dan Sutan Sjahrir sempat mengunjungi Gedung Perundingan Linggarjati itu. Keduanya menjanjikan akan merenovasinya dengan bantuan Pertamina, namun belum sempat terwujud.
Pada bangunan utama yang menghadap ke timur terdapat enam kamar tidur bagi delegasi Belanda dan Indonesia. Enam kamar tersebut saling berhadapan dan dipisahkan oleh lorong selebar dua meter. Di masing-masing kamar (berukuran 5 x 6 meter), kita dapati replika tempat tidur, lemari pakaian, dan kursi sesuai yang digunakan pada masa itu.
Ada pula replika yang tidak mendekati aslinya, yakni wastafel. Saom menjelaskan, sulit menemukan model asli wastafel, tetapi dia menyebutkan seluruh pipa wastafel masih asli.
Satu kamar lain, yang terletak terpisah di sayap utama bangunan, ditempati Lord Killearn. Selain berukuran lebih luas (8 x 8 meter), kamar ini dihubungkan dengan dua pintu koneksi ke kamar tamu pribadi serta menuju taman. Kamar Lord Killearn pun dilengkapi kamar mandi pribadi walau dengan interior sederhana.
Hampir 90 persen ubin di situs Gedung Perundingan Linggarjati yang didominasi warna hijau dan coklat muda merupakan ubin asli. Ada tambahan ubin berwarna kuning yang menghubungkan kamar Lord Killearn dan ruang tengah, ruang perundingan, karena ubin asli telah amblas. Sementara, kusen maupun daun pintu dan daun jendela masih asli.
Menurut Saom, penggantian dilakukan terhadap seluruh genteng pada tahun 1994. Sekitar dua bulan lalu, juga dilakukan penggantian terhadap kulit jok kursi yang didominasi warna asli, yakni abu-abu.
"Selain piano, hanya kursi dan meja makan yang benar-benar masih asli, selebihnya merupakan replika karena furnitur asli sempat tidak dipelihara dalam waktu puluhan tahun," tutur Saom.
Bahkan, perabot-perabot asli dari gedung itu dikembalikan atas itikad baik penduduk setempat, yakni Abdul Rasyid (warga Jerman yang menikah dengan penduduk setempat) dan H Abdul Rahman Saleh, yang selama ini menyimpan dan merawat furnitur tersebut.
BILA melihat pada bagan gedung (Museum Linggarjati) tatkala difungsikan sebagai hotel, dengan kamar hanya berjumlah enam, mungkin lebih tepat mengacu pada konsep bed and breakfast, yaitu penginapan yang sederhana, dan tamu bisa makan bersama pemilik hotel.
Ini selaras dengan pemikiran bahwa setelah meminang dan memboyong janda kembang Jasitem, Meneer Mergen-atau dikenal sebagai Tuan Tersana (pemilik Pabrik Gula Nieuw Tersana di dataran rendah Kabupaten Cirebon)-merombak gubuk Nyai Jasitem sebagai rumah untuk vila peristirahatan pada tahun 1921. Rumah ini lalu dijual kepada Van Ost Dome yang menjadikannya sebagai rumah tinggal permanen.
"Berdasarkan catatan kami, Gedung Museum Perundingan Linggarjati rata-rata didatangi tak kurang 100 pengunjung tiap hari," ungkap Tijih Sunarsih (46), pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kabupaten Kuningan yang bertugas sebagai koordinator museum.
Tijih adalah putri almarhum Sukarta yang wafat tahun 2001, salah seorang pelayan pada masa Perundingan Linggarjati.
Tijih menerangkan, kunjungan wisatawan tertinggi terjadi setiap Juli, pada masa liburan sekolah yang dapat mencapai 6.000 orang. Jumlah pengunjung tertinggi terdiri dari pelajar yang datang berkelompok. Sementara pengunjung umum relatif sedikit, walau ada pula wisatawan asing. Menurut Saom, para mahasiswa malah jarang berkunjung.
Minimnya fasilitas menyebabkan obyek wisata Gedung Museum Linggarjati kurang diminati pelancong. Padahal, Desa Linggarjati memiliki beberapa kawasan wisata, mulai dari wisata alam, perhotelan, pusat hiburan musik, kawasan peristirahatan (vila) yang banyak dikunjungi masyarakat dari Kabupaten Kuningan, Cirebon, Kota Cirebon, dan kabupaten lain.
Tijih menyebutkan, obyek wisata Gedung Museum Linggarjati sesungguhnya telah dilengkapi dengan kawasan bisnis yang terpisah di sisi selatan, berupa halaman parkir, kios, maupun auditorium, tetapi pemanfaatannya kurang maksimal. Auditorium lebih sering digunakan oleh jajaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk rapat. Sedangkan masyarakat awam lebih tertarik mengunjungi kawasan wisata alam ataupun hiburan lain.
Sesungguhnya, obyek wisata Gedung Museum Linggarjati berpotensi, misalnya, untuk dibangun perpustakaan, teater (untuk pemutaran film dokumenter), kafe untuk tempat diskusi, bukan hanya kaum muda tetapi juga kaum intelektual, tentu dengan menangkap semangat kompleks Perundingan Linggarjati sebagai situs sejarah.
Modal perpustakaan telah dimulai tahun 1991 melalui hibah buku-buku berbahasa Belanda oleh Kedutaan Besar Belanda, di antaranya KGP Kleine Serie Nederlands Indonesische Betrekkingen 1945-1950, Jan Bank Katholiekenen de Indonesische Revolutie, Het Corps Binnenlands Bestuur op Java 1945- 1949, serta buku politik dan budaya Indonesia yang ditempatkan dalam dua lemari kaca yang selama ini selalu terkunci.
Bangunan paviliun dengan tiga ruang utama pun siap seandainya perpustakaan dibuka untuk publik. Pertanyaannya, adakah kemauan untuk memaksimalkan Gedung Museum Perundingan Linggarjati ini?
Niscaya ini bukan sekadar membangun sebuah kawasan wisata. Tetapi, juga untuk menumbuhkan kembali semangat nasionalisme dan perjuangan diplomasi sebagaimana tercermin dalam Perjanjian Linggarjati. (http://kompas.com/kompas cetak/0502/05/Wisata/1530418.htm)
Bagi yang tertarik dengan cerita sejarahnya, mereka stay until the end sedangkan bagi yang lainnya, udah ngacir dari kapan tau untuk photo2 dengan segala pose disegala tempat yang ada disana, dan ending2nya kami makan tahu genjrot khas cirebon secara lesehan dihalaman samping belakang rumah yang teduh, hijau dan indah dengan angin semilir berhembus. Hmmm..tenang dan damainya ini tempat, begitu beda dengan Jakarta... it’s good to get away from hectic busy crowded poluted Jakarta once in awhile ain’t it ?

Setelah berisitirahat & bermalas2an sejenak, kami turun ke lokasi patung prasasti yang berisikan naskah perundingan dan kembali berphoto2 dibawah, photo keluarga BatMus dengan Spanduk PTD Cirebon – Linggarjati tersebut, dan selesai photo di rumah tempat tinggal Sjahrir ketika perundingan di tahun 1947 diadakan kami melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan kami, hotel Santika dan tiba disana sekitar pukul 17.00 sore. Peserta kami bebaskan berisitirahat untuk kembali berkumpul di lobby pada pukul 19.00 malam untuk makam malam bersama di gedung Negara.

Di waktu jeda ini, sebagian besar peserta berisitirahat di kamar masing2, yang lain nya explore dan motret2 di hotel, sebagian kecil jalan kaki keluar hotel melihat2 kota Cirebon diwaktu sore, dan sisanya Elida, Eko, Ria dan Ican juga Niko berenang di hotel. Niko yang dulunya gue kira jaim ternyata orangnya rusuh, bawel, dan asal banget. Bahasa Indonesia nya lancar banget, dan ternyata selain bisa dicela, dia juga bisa nyela balik. Di kolam renang sempet ada kecelakaan kecil yang membuat gigi Ican patah setengahnya, tapi untungnya cepet itangani, gue dan Dea ke apotik beli obat pain killer sehingga Ican feeling much better sampe sempet2nya ikutan PinTong midnite ke Kasepuhan.

Jam 19.00 malem para peserta udah berkumpul di lobby untuk makan malem di Gedung Negara yang ternyata adalah bekas rumahnya Resident Cheribon yang dibangun pada tahun 1865. Di gedung ini kami disambut oleh Bapak Wakil Gedung Negara dan staff nya yang berpakaian resmi batik. (tenang guys, kita nggak salah kostum kok, soalnya jauh2 hari sebelumnya kita udah tanya kalo mau bertamu dan makam malam dress code nya apa, dan mereka jawab silahkan aja memakain baju bebas dan santai). Rupanya biar bagaimanapun, beliau2 tersebut merasa tetap harus berpakaian rapi sebagai tuan rumah yang menyambut tamu2 dari Jakarta.

Disana kami juga disediakan hiburan organ tunggal dengan penyanyi nya mbak Yuni yang menyanyikan lagu2 barat, Indonesia, dan beberapa lagu dangdut dan tarlingan khas Cirebon yang sukses membuat MayaSari mabok, karena ternyata kita baru tau bahwa MayaSari itu phobia musik dangdut alias ngak bisa denger musik dangdut dikit. Kalo dia denger musik dangdut, biasanya mual2 atau muntah2 atau mabok. Ya ampyuunn, ada2 aja nih phobia. Trus nggak lama kemudian, Papa Oen & Mama Oen juga menyumbangkan suara emasnya sementara kami terus mengantri makanan yang disediakan.

Makan malam kali ini menu nya istimewa, Nasi Jamblang Mang Udel dan Empal Gentong Mang Dharma, makanan khas Cirebon yang terkenal enak, dan terbukti, makanan2 tersebut emang endang bambang tralala, rasanya juara banget deh !!! Inilah enaknya jalan sama BatMus, soalnya tempat2 makan beserta makanan yang disajikan biasanya merupakan hasil research, survey dan rekomendasi dari berbagai pihak, sehingga setiap kali PTD, biasanya berat gue naek 1-2 kilo aja loh...

Selesai makan, ada sepatah dua patah kata dari tuan rumah, menonton sekilas film djadoel (yang item putih itu lho ) juga games ice breaking yang bertujuan untuk memperkenalkan anggota baru dan mempererat silaturahmi anggota lam sehingga tiba waktunya kami kembali ke hotel karena waktu sudha menunjukkan pukul 09.30 malem.

Setibanya di hotel, peserta dibagikan kaos PTD untuk dipakai ke esokkan harinya, dan dipersilahkan untuk beristirahat dikamar masing2, kecuali bagi yang belum mau tidur, ada dua pilihan acara, yaitu nongkrong di cafe dan nonton bola dunia atau PinTong keliling Cirebon sembari merasakan makanan/minuman khas sana. Beberapa tema seperti Adep, Adhit, MayaHadi, Vari, Fide, Papa & Mama Oen memilih untuk nongkrong di cafe, sementara gue, Tiwi, Anne, Elvi, Joe, Ican, Indie, Ela, Tetty, MayaSari dan Adi memilih untuk jalan kaki ke pusat kota, sembari nyobain teh poci di pinggiran jalan. Akan tetapi, ternyata Cirebon di waktu malam tidak terlalu ramai sehingga ketika kami tiba di perempatan Kartini yang katanya ramai, disana udah sepi sehingga akhirnya kami sepakat untuk carter angkot minta dianterin ke daerah Kasepuhan untuk sekedar ngopi2,ngeteh2 dan makan cemilan. Angkot yang kami stop berhenti dan setelah nego akhirnya Rp 20,000 dibayar untuk satu kali drop ke TKP PinTong dan mulailah kami memesan makanan “ringan” seperti sate kambing, roti keju coklat dan berbagai jenis kopi & teh.

Disini tempat PinTong ini kami mengadakan permainan “garing2an”, siapa yg paling TIDAK garing yg bayar makanan dan minuman. Selama waktu ini kami sering tertawa ngakak karena banyak kalimat2 dan percakapan2 “garing” dari semua orang yang sumpah lucu banget dikarenakan semua yg ikut takut dibilang paling ASIK dan disuruh bayar (biarpun pada akhirnya bayarnya patungan juga). Disini kami juga nyela Ican yang giginya patah karena “tragedi bikini” di kolam renang, dan untungnya Ican nya juga dengan suka rela menyediakan diri untuk menjadi korban yang baik dan benar, sehingga tak terasa waktu sudah menunjukkan lebih dari tengah malam dan kami sudah harus pulang dikarenakan besok pagi akan memulai perjalanan panjang tour de keraton.

Dijalanan yang udah mulai sunyi senyap, tak terlihat satu kendaraan pun dari tempat tersebut, padahal jauhnya jarak ke hotel kami ada sekitar 4 km, dan dengan cueknya kami berjalan kaki sambil mengharap ada angkot lewat tempat ini untuk membawa kami ke hotel. Beberapa lama berjalan, angkot yan ditunggu2 nggak muncul juga akhirnya kami sepakat untuk naek becak menuju hotel dan konvoi becak pun dilakukan dengan sedikit nyasar disana sini. Tiba di hotel kami menyempatkan diri untuk berphoto2 didepan hotel sebelum akhirnya berpisah dan kembali ke kamar masing2.

Bersambung ke Day-2






Photobucket

Photobucket

ddd
dThumbnaild
ddd

Hari ketiga : Senin 23 Mei 2005
Kota Tua Semarang
Pagi hari kami berkumpul untuk sarapan, dan dengan berat hati salah satu peserta kami Ninta pamitan ke bandara untuk pulang ke Jakarta karena tugas kantor, dan kamipun bersiap2 naik ke bus untuk tour hari ketiga atau hari terakhir kami di Semarang pada pukul 08.00 pagi. Oh ya, satu peserta yang bernama Ela juga pulang duluan kemarin malam telp memberitahukan bahwa dia sudah tiba dengan selamat di Jakarta.

Perjalanan pertama kami di hari ketiga ini adalah menuju Kota Tua Semarang, yang memakan waktu sekitar dua jam. Kami memulai perjalanan dari titik nol semarang, melewati kantor pos, gedung PTP, daerah sabung ayam dan permukiman warga semarang kota lama, dan berakhir di Gereja Blendug. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke daerah Pecinan. Maaf nggak banyak yang saya bisa ceritakan disini karena asli gue sama sekali nggak ngedengerin ceritanya karena asik berphoto2 karena banyaknya lokasi yang menarik disini. Kemudian kami lanjut mengunjungi klenteng King Ho Ping/Tsi Lam Tsai.

Pecinan dan Kelenteng King Ho Ping/Tsi Lam Tsai
Bangunan klenteng ini dibagi menjadi 3 bagian, bangunan tengah, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Pada bangunan tengah terdapat 3 altar, altar tengah untuk Sin-Cie, para tokoh masyarakat yang bijaksana dan banyak berjasa kepada masyarakat, altar kanan dan kiri untuk anggota masyarakat yang dititipkan.

Kemudian bangunan sayap kanan digunakan untuk Kong Koan, yaitu kantor perkumpulan orang-orang yang berkedudukan yang diangkat oleh pemerintah hindia belanda pada waktu itu dan digunakan mulai tahun 1837 s/d 1920. Sebagian dari bangunan sayap kanan ini mulai 1 Juni 2004 dimanfaatkan untuk Balai Pengobatan Yayasan Tjie Lam Tjay.

Sedangkan bagunan sayap kiri digunakan untuk kantor Tjie Lam Tjay, mulai digunakan pada tahum 10837 s/d 1920. Kemudian kantor ini dipindah kedalam klenteng Tay Kak Sie. Mulai 1 Junii 2004 sebagian dari bagunan sayap kiri ini dipakai untuk kantor pusat Yayasan Tjie Lam Tjay.

Gang Lombok
Selesai berkeliling klenteng yang dipandu oleh Bapak Jongkie Tio, peserta menyempatkan diri mampir ke Gang Lombok yang terletak disamping kelenteng untuk menyicipi lumpia goreng dan lumpia basah, juga es cau yang terkenal. Rasanya emang nendang banget ! saking nendangnya, peserta pun mulai kalap makan ditempat serta membungkus untuk dibawa sebagai oleh2, samapi2 kami terlambat setengah jam dari jadwal berikutnya dikarenakan antrian bungkusan lumpia peserta PTD begitu panjang. Kalo ngak inget pemberhentian berikutnya adalah Toko Oen untuk santapan siang, kami pasti tidak berhenti sampai disini. Tak lupa Mbak Ninik dan Mas Agni pamit karena harus ke airport mengejar pesawat siang mereka untuk kembali ke Jakarta. Kemudian Pak Jongkie juga pamit karena ada acara lain yang beliau harus hadiri.

Toko Oen
Cerita mengenai toko oen, salah satu restaurant tertua di semarang, bermula di tahun 1922 di jogjakarta dimana seotrang ibu rumah tangga bernama liem gien nio yang merupakan istri dari oen tjoen hok, seorang letnan chinese pada masa tersebut punya banyak waktu luang dan ingin mengerjakan sesuatu. Liem ini merupakan ahli masak yang handal dan mahir dalam memasak masakan belanda dan masakan china. Maka ia mulai membuat makanan2 tersebut dan menjualnya kepada komunitas chinese, belanda dan jawa di daerah tersebut. Restaurant yang namanya diambil dari nama suami liem tersebut lambat laun terkenal karena masakan nya yang enak, dan setelah tiga tahun berjaya di jogjakarta, akhirnya mereka pun membuat restaurant cabang semarang pada tanggal 16 lpril 1936 di daerah bodjong weg, yang sekarang lebih dikenal dengan jalan pemuda.

Cucu liem yang bernama yenny megaputri, yang merupakan lulusan dari jurusan arsitektur delft university & yang me manage toko oen mengatakan, bahwa restaurant tersebut yang mempunyai jendela tinggi dan atap melingkar dibangun seperti the jugendstijl (young style) yang pada saat itu sangat popular di Eropa pada akhir abad ke 19.

Yang membuat toko oen tersebut sangat special adalah bahwa toko tersebut tidak berubah sama sekali setelah melewati masa2 bertahun2, biarpun disekitar toko sudah mengalami perubahan dan modernisasi di zaman globalisasi, akan tetapi ia tetap mempertahakan ke asli-an bangunan tersebut. Interior didalam tak kalah indah dengan interior luarnya. Jendela nya berwarna wijau dan ubin di lantainya kotak2 kuno. Dua kipas angin raksasa di atap yang pada zaman dahulu nya digunakan orang2 sebelum ada AC. Ada piano tua yang mereka miliki dari tahun 1936 dan masih berfungsi dengan baik. ”I love old buildings so i will not make any change to this restaurant," kata Yenny, cucu yang merupakan generasi ketiga yang menjalankan took oen tersebut.

Menu Toko oen yang terkenal adalah menu steak, nasi goreng dan sate ayam, juga es krim nya yang sangat berbeda dengan es krim2 yang biasa di jual di tempat2 lain. Kue2 kering dan bakery belanda nya di display sedemikian rupa didalam toples2 menarik dan mengundang rasa ingin tahu untuk mencicipinya. Dan setelah mencicipi, baru kita tau betapa enaknya makanan2 yang disajikan disana.

Anyway, setelah selesai makan siang dengan menu2 andalan tadi yang ditutup dengan es krim, maka saya sebagai panitia PTD Semarang-Ambarwa mengadakan sedikit sesi review perjalanan yang dimulai pada hari pertama hingga hari ketiga, session by session. Disitu peserta berbagi cerita dan kesan2 selama perjalanan berlangsung dari hari ke hari yang diwakili oleh Ibu Rose dan Pak Soewarno. Kemudian acara siang itu ditutup dengan ucapan terima kasih panitia kepada pihak Yayasan SM dan juga kepada peserta atas kelancaran acara. Kemudian kami memberi waktu kepada peserta untuk membeli oleh2 di daerah Pandanaran.

Oh ya, di toko oen ini pada akhir acara anak buah Pak Jongkie datang dengan membawa pesanan es rujak puspa untuk peserta yang telah dipesan sehari sebelumnya untuk dibawa ke Jakarta.

Belanja Oleh-Oleh di Jl. Pandanaran
Setelah semua peserta naik ke bis, maka bis pun meluncur ke arah Jl. Pandanaran. Setibanya rombongan disana, peserta di bebaskan untuk sesukanya berbelanja, diberi waktu selama satu jam dan sudah harus kembali ke bis pada pukul 15.00 karena kereta api yang akan membawa rombongan kembali ke Jakarta dijadwalkan berangkat pada pukul 16.00 sore. Dan berpencaranlah rombongan sesuai dengan tujuan belanjanya masing-masing. Ada yang belanja bandeng, moci, wingko babat, dan tentu saja lumpia untuk diberikan kepada keluarga dan sanak saudara juga teman-teman dan rekan-rekan kerja tercinta di Jakarta. Kemudian setelah seluruh peserta kembali kedalam bus, maka berangkatlah bus menuju stasiun Tawang

Stasiun Tawang
Setibanya di stasiun pada pukul 15.30, kami menunggu di ruang VIP yang ber AC. Kami duduk dengan segala macam barang2 kami plus oleh2 yang memenuhi ruangan yang tidak begitu besar tersebut. Pada pukul 15.45, kereta api datang, dan kamipun segera menaikkan barang2 kami ke gerbong enam yang sudah dibooking sebelumnya untuk seluruh peserta PTD Semarang-Ambarawa. Sepuluh menit wara wiri, akhirnya semua barang sudah rapi tertumpuk di kereta, da kami dilepas oleh Bapak Amran dan Ibu Wisda yang tinggal satu hari lagi di Semarang untuk istirahat dan naik pesawat terbang di hari berikutnya.

Closing

Perjalanan kereta kembali ke Jakarta ini seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya amat sangat berbeda dengan perjalanan kereta ke Semarang. Apabila perjalanan kereta api dari Jakarta menuju Semarang rombongan pada saat berangkat terlihat sangat kalem, tenang dan diam (lebih tepatnya: jaim hehehe), akan tetapi sebaliknya, pada perjalanan pulang kali ini, sepanjang perjalanan ke Jakarta peserta rombongan saling ribut berceloteh, berteriak-teriak, bernyanyi-nyanyi, bersenda-gurau juga saling mencela, dan juga saling menceritakan pengalaman-pengalaman mereka selama di Semarang, pokoknya heboh deh! Untuk antisipasi situasi yang makin lama makin seru, para peserta pun diajurkan untuk meminum “jamu jaga sikap” agar bisa mengkontrol sikapnya selama di perjalanan, akan tetapi hal ini tidak digubris oleh rombongan, malahan volume keributan sudah mencapai level mencemaskan (duileee bahasanya…).

Dengan pasrah panitia pun membiarkan peserta untuk menikmati perjalanan mereka dengan keriaan yang meningkat. Apa sih yang di ributin? ternyata dua meja dipakai untuk judi, eerr...main kartu (qiu qiu, remi, kocokan), dan yang kalah dapat hukuman aneh2, seperti nyanyi lagu2 SD, ngebangunin yang lagi tidur dan menerima segala resikonya, dll dsb.

Terus ditengah2 perjalanan, peserta saling mengganggu satu yang lainnya, dan mulai nggak ada kerjaan dan mulai ambil kamera (lagi) dan photo2 dengan berbagai tema...ada photo peserta memakai selimut hijau2 KA dan menutupi seluruh tubuhnya, ada photo dimana semua peserta tidak boleh tampak mukanya alias wajah terbungkus selimut, ada photo lagi ngamen dan makan dibawah lantai gerbong, waaa, pokoknya seru !!! It’s nice being stupid once in a while, seakan tidak ada beban...semua stress, pikiran tentang kerjaan, keluarga, pacar, atau masalah2 baik yang ringan maupun yang berat di jakarta seakan2 terlupakan sejenak dan kami kembali menjadi anak2 kecil yang penuh kegembiraan menikmati detik demi detik perjalanan kami.

Feels good to let it all out as this kind of opportunity only come once in awhile at the right place, the right time with the right people.... and as soon as the event is over, I will be back to my daily routine as Secretary to General Manager in an established oil company, in my suit, laptop and all, with formal and proper attitude. So I was grateful for having such a joyable experience with these people!

Peserta juga dengan penuh semangatnya merencanakan reuni ex peserta PTD Semarang (alumni Semarang?). Akhirnya muncul kesepakatan bahwa peserta ex PTD Semarang akan mengadakan gathering dan temu kangen kurang lebih satu bulan setelah ini. (heran, pisah aja belom kok udah ngerencanain reunian ? dasar peserta PTD !). Disini kami mnegingatkan teman2 agar sekembalinya ke Jakata nanti untuk mengcopy semua file gambar kedalam CD-Rom dan dikirim ke sekretariat SM atau kantor deedee untuk di compile gambarnya sehingga pada saat reuni, kumpulan photo2 pilihan tersebut sudah dapat dinikmati gambarnya.

Tak terasa kereta api sudah hampir mencapai tempat pemberhentian Jatinegara. Pantia pun menyampaikan sepatah dua buah patah terakhir sebagai tanda perpisahan, dan beberapa peserta pamit untuk pulang. Lalu tak lama kemudian, kereta pun tiba di Stasiun Gambir - Jakarta. Dengan berat hati dan penuh haru peserta pun saling berpamitan dan waktu pada saat itu menunjukkan pukul 22.00 malem.

Tibalah kita di penghujung cerita dimana saya dan Adep juga dijemput oleh our brother. Di mobil saya bersyukur kepada Allah SWT karena diluar segala macam kekurangan disana sini acara lancar dilaksanakan tanpa kurang satu apapun, dan peserta tampak menikmati perjalanan ini (dan gossipnya ada yang cinlok yang blom bisa kami buktikan, hehe), dan saya harap mereka tidak kapok lagi untuk mengikuti dan berpartisipasi pada acara-acara kami yang berikutnya.

Atas nama seluruh panitia PTD Semarang, kami mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada semua pendukung acara, baik dari pihak Semarang (Mas Agung, Pak Jongkie Tio, Pak Sunarto, paranormal Lawang Sewu, juga kepada peserta rombongan yang telah menyemarakkan suasana sehinga PTD Semarang-Ambarawa jadi berkesan. Kami memohon maaf apabila ada salah-salah kata maupun perbuatan selama berlangsungnya acara. Akhir kata, hope you had a great time in Semarang-Ambarwa and kami nantikan kehadiran teman-teman semua di PTD-PTD berikutnya !

With lots and lots of love, hugs and kisses !
Deedee

*liputan yang dikumpulkan dari berbagai sumber, antara lain dari liputan & catatan peserta PTD Semarang 2004, peserta PTD Semarang-Ambarawa 2005, buku2 & sinopsis sejarah di lokasi kunjungan, nara sumber, koran, data centre, blog & other online data yang diambil dari internet*



Photobucket


Photobucket



ddd
dThumbnaild
ddd

Hari kedua : Minggu, 22 Mei 2005
Museum Perkeretaapian Ambarawa

Pagi hari saya bangun pada pukul 06.00 pagi. Bersama Agung, saya door to door membagikan kaos “spoor djadoel” kepada peserta PTD, agar dipakai oleh seluruh peserta PTD pada acara hari ini. Tak lama kemudian datang mbak Ninik dan Mas Agni (yang tangannya masih terbalut gips karena kecelakaan mobil tapi masih bela2in ikutan acara PTD spoor djadoel ini) datang dan bergabung di hotel. Setelah sarapan pagi di restaurant hotel, pada pukul 07.30 WIB para peserta yang memakai kaos yang “sedikit ketat dan seksi” tersebut naik ke bus masing2 dan mulailah kami berangkat menuju museum dan stasiun kereta api djadoel Ambarawa.

Perjalanan menuju kesana memakan waktu kurang lebih satu jam, dan kami menghabiskan waktu di bis dengan bernyanyi2 karaoke yang mike-nya dikuasai oleh Asmara & Victor dengan nada2 sumbang mereka mengajak peserta yang duduk di belakang di bus dua ini (Linda, Sari, Ika, Diana dan Aryo) untuk ikut bernyanyi2.

Kami tiba di lokasi sekitar pukul 08.45 pagi, dan kamipun langsung berkeliling mengitari museum yang mempunyai beberapa koleksi lokomotif djadoel (djaman doeloe).

Sebagai latar belakang, sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai oleh N.V NISM. Di jawa tengah pada tangal 7 Juni 1864, perusahaan ini membangun jalur rel dari Semarang-Surakarta-Jogja. Dua puluh satu perusahaan KA lainnya menyusul kemudian, satu dari pemerintah (Staatsspoorwegen/SS) dan tujuh belas lainnya dari perusahaan swasta. Perusahaan2 tersebut mempunyai manajemen dan peralatan yang berbeda. Loko uap misalnya, sampai akhir perang dunia II tercata memiliki 982 loko yang terdiri dari 69 jenis. Sejak tahun 1950, DKA (Dinas Kereta Api) mulai memodernisasi loko uapnya dengan toko diesel yang modern dan efisien. Memasuki tahun 1970, loko uap dikenal sebagai barang antik setelah tidak diproduksi lagi oleh perusahaan lokomotif Eropa.

Gubernur Jateng bekerjasama dengan Kepala PJKA (perusahaan Jawatan Kereta Api) di Jateng mulai mengumpulkan loko uap dan menempatkannya di stasiun Ambarawa. Pada akhir 1976, sebanyak dua puluh satu loko uap menjadi koleksi stsiun ini dan satu loko yang oaling bersejarah ditempatkan di Munumen Palagan Ambarawa. Stasiun Ambarwa dirsmikan sebagai Museum Kereta Api pada tanggal 21 April 1978.

Ambarawa dipilih sebagai lokasi Museum Kereta Api karena mempunyai latar belakang sejarah yang kuat. Ambarawa pernah digunakan sebagai pusat militer oleh pemerintah kolonial belanda dengan benteng pertahanan nya yang kuat, Willem I.

Enuff about the history side, back to the real life. Intinya, setibanya kami disana, mulailah persenjataan berbahaya kami yang berupa puluhan digital camera dan video camera berseliweran menangkap momentum2 yang sangat menarik ini. Peserta berlomba2 berpose di dengan berbagai gaya dengan diselingi gelak tawa kami yang dengan norak dan bangganya berpose di lokomotif kuno yang jalannya masih menggunakan kayu bakar ini. Baru sekali ini saya melihat photographer yang satu tangannya mengambil gambar dengan kamera besarnya, sementara satu tangan yang lainnya masih pake gips dan berusaha agar tidak kena senggol karena masih patah boow, hehe *lirik mas Agni*



Kereta Api Lokomotif Ambarawa
It takes Only One Hour,
But the memory of
your railway mountain tour
will last forever
*seperti yang tertulis di gerbong kereta api djadoel ambarawa*

Pukul 09.15 kereta loko djadoel yang sudah mulai loaded dengan bahan bakar kayu ini mulai dipanaskan. Kereta api yang akan kami naiki ini terdiri dari satu lokomotif dan hanya dua gerbong dengan kapasitas 80 orang. Gerbongnya terbuka dengan jendela yang tidak ada kacanya sehingga angin sepoi2 masuk dengan segarnya. Lalu 15 menit kemudian, masinis meniupkan peluit dengan kerasnya. Pada moment tersebut, tiada suara yang lebih indah dari suara peluit masinis yang memberi kode bahwa kereta api lokomotif ini siap diberangkatkan, dan peserta pun berebutan menaiki kereta api lokomotif djadoel ini. Dua gerbong yang kami sudah booking tersebut segera sesak oleh peserta yang lari2 kesana kemari mengagumi keindahan dan ke kuno-an barang langka ini.

Peserta duduk dengan manisnya? you wish man! After all, we’re talking about peserta PTD, yang kelakuannya sudah pastinya berisik, tidak bisa diam, bergerak kesana kemari dengan hebohnya sambil bersenda gurau saling mengganggu. Kami belari2 dan berteriak2 dengan riang gembira bak anak kecil yang baru saja dikasih mainan baru. Selama diperjalanan menuju ke atas yang memakan waktu kurang lebih satu jam, kami kembali berphoto2 dengan ratusan gaya. Seorang peserta bernama Maya malahan dengan cerdiknya ngacir duluan dan tidak naik ke gerbong seperti kami, melainkan naik ke lokomotifnya dan bercakap2 dengan masinis di loko yang panas.

Berikut adalah liputan pandangan mata dari rekan peserta PTD, Maya mengenai cara kerja lokomotif uap...( ini resume hasil interview dan pandangan mata ketika Maya berada di loko selama 30 menit). thanks ya maya udah sharing di milis (red).

Lokomotif uap ini bekerja dengan mengandalkan tekanan uap air yang didihkan dari ketel, uap ini baru dapat digunakan uantuk mendorong kereta ketika mencapai tekanan 9 ...(maya lupa satuannya). Sedangkan jumlah liter air yang didihkan untuk menggerakkan kereta sepanjang 10 km adalah ...PR ya.....Mengenai keamanan lokomotif ini dijamin sangat safety karena ketel tidak mungkin meledak oleh tekanan uap air. hal ini disebabkan oleh alat penjaga tekanan yang bentuknya seperti pegas. (tapi ngga aman buat masinis karena waktu memasukkan kayu tangannya suka menyenggol ketel dan melepuh). Untuk bahan yang digunakan untuk mendidihkan air adalah kayu jati (tapi kalo menurut masinisnya kadang-kadang tergantung adanya kayu pokoknya asal kering aja). Kayu itu panjang 50 cm dan diameter 10 cm ukuran ini dimaksudkan agar kayu tsb mudah dimasukkan kedalam oven. Untuk horse power kereta kemarin maya ngga nanya tapi mungkin dapat dilihat dari buku tentang kereta api yang dibeli disana. Nah itu tadi sedikit cerita mengenai lokomotif uap ya...

Akan tetapi, duduk di dalam atau di dekat loko memang sangat tidak direkomendasikan. Kenapa? Karena kita bisa terkena percikan bara kecil yang beberapa kali beterbangan di sekitar loko, yang salah satunya sempat mengenai teman kita Adep yang sedikit terluka leher bagian belakangnya. So kids, don’t try this!

Ditengah perjalanan menuju dataran tinggi yang melewati sawah nan hijau, kereta api pun berhenti cukup lama untuk mengisi persediaan air. Moment ini tidak di sia2kan oleh peserta yang kemudian ambil photo di kereta dengan gaya yang mulai aneh2. Peserta di photo dengan wajah diluar jendela, photo tampak depan (muka), lalu tampak dari belakang (di photo –maaf -pantatnya aja), sampai di photo di jendela hanya terlihat kakinya doang. Kemudian peserta turun dan berpose seolah2 mendorong kereta api yang lagi mogok, trus berpose ala “pacar ketinggalan kereta”, sampai akhirnya masinis meniupkan peluit kembali pertanda kereta sudah siap melanjutkan perjalanan. Setibanya kami di ujung stasiun, maka kami turun dari kereta untuk menunggu kereta lain tiba sehingga kereta kami tidak bertabrakan dengan kereta kedua tersebut. Sambil menunggu, kami makan es krim walls yang jualan disana dan photo2 di depan kereta api menggunakan spanduk PTD Semarang-Ambarawa.

Tak lama kemudian kereta api kedua sudah tiba, sehingga giliran kereta api kami turun kembali ke Stasiun Ambarawa dan menuju Museum Kereta Api Ambarawa selama setengah jam. Perjalanan lebih cepat karena kali ini rutenya menuruni bukit sehingga kereta meluncur dengan cepat. Setibanya di museum, kami disuguhi makanan setempat yang berupa ikan bakar, ayam goreng, wader goreng, sayur asam, pecel, teracam, brongkos, tahu, tempe, kredok, kerupuk, sambel terasi, lalap, yang kesemuanya enak dan segar, sampe nasi2nya pun terasa gurih di lidah. Selain makanannya enak, kamipun sudah sangat lapar, sehingga makan siang tersebut ludes dalam waktu sekejab (buat Aryo yang nambah sampe berkali2 dan sudah memberikan liputan tob PTD kali ini di milis jalansutra, for your information, cateringnya adalah paket museum. Jadi kalo booking kereta api djadoel ambarawa, sekalian sama paket makan siangnya yah). Biar kekenyangan, kami masih sempat berputar di museum untuk membeli buku sejarah kereta api ambarawa, juga souvenier2 berupa kaos ambarawa, pajangan2 dan mainan sebagai oleh2. Selesai makan dan shalat dzuhur, pada pukul 13.00 siang kami melanjutkan perjalanan ke Museum Palagan Ambarawa.

Museum Palagan Ambarawa.
Monumen Palagan Ambarawa ini didirikan pada tahun 1973 oleh Deputi KASAD Letjend Sayidiman dan diresmikan oleh Bapak President Suharto pada tanggal 15 Desember 1974. Bagunan ini terdiri dari beberapa bangunan relief2 dan satu bangunan museum. Relief2 yang terdapat didalamnya adalah Proklamasi Kemerdekaan RI, Indonesia bangkit Kembali, perebutan senjata dari tangan jepang, pasukan Inggris mendarat di Semarang pada tahun 1945 (yang dipimpin oleh Jend. Bethel), Jend. Sudirman menentukan siasat supit udang, partisipasi masyarakat kepada BKR (dapur umum), dan relief terakhir adalah pasukan Inggris meninggalkan Ambarawa pada tanggal 15 Desember yang sekarang dijadikan hari pasukan Infanteri.

Sedangkan di museumnya sendiri dinamakan museum Isdiman untuk mengabadikan nama pahlawan Isdiman yang gugur di medan perang ambarawa pada tanggal 26 November 1945. Museum tersebut berbentuk rumah joglo dan digunakan untuk menyimpan koleksi senjata dan pakaian yang dipergunakan pada [pertempuran di palagan Ambarawa yang merupakan hasil rampasan pasukan Jepang. Didalam museum juga terdapat gambar2 mengenai perang Ambarawa, dan gambar2 pejuang kita dan peran masyarakat tempo doeloe yang membantu prajurit2 kita dalam kancah peperangan.

Ada bagian dimana menurut cerita teman2 peserta ada Pak Samudji (yang in charge di museum tersebut) bercerita di dalam ruangan dengan semangat yang berapi-api, akan tetapi saya melewati bagian ini karena kapala saya pening dan sayapun kembali ke bus menunggu di dalam bis

Setelah puas berkeliling selama kurang lebih 45 menit jam, maka kamipun meluncur balik ke arah kota semarang dan menuju Gedung bersejarah lainnya, Lawang sewu.

Lawang Sewu
Sejak jaman pemerintahan penjajah Belanda Semarang sebagai kota besar salah satu buktinya sebuah perusahaan kereta api (trem) milik Belanda menempatkan kantor pusatnya. Kantor pusat Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij atau dikenal NIS ini menempati sebuah gedung megah bergaya art deco yang bercirikan ekslusif dan berkembang pada era 1850-1940 di benua Eropa. Bangunan ini salah satu karya dua arsitek Belanda ternama saat itu, yaitu: Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag.

Gedung ini oleh warga Semarang lebih dikenal dengan sebutan Gedung Lawang Sewu. Mengapa bangunan tua tersebut oleh masyarakat Semarang dikenal dengan julukan Lawang Sewu ? Karena ciri khas bangunan megah yang merupakan sebuah perkantoran ini memiliki pintu atau ‘lawang’ dalam bahasa Jawa, sedang ’sewu’ artinya seribu sebagai arti kiasan dari banyak karena memang jumlah pintunya tidak atau seribu atau lebih. Atau arti dalam bahasa Indonesia adalah si “pintu seribu", kira-kira ingin menunjukan bahwa gedung kantor pusat kereta api Belanda ini punya pintu banyak sekali.
Tidaklah sulit untuk mencapai lokasi gedung tua ini karena letaknya berdekatan dengan monumen Tugu Muda dan sebagai salah satu sudut kota Semarang. Bangunan monumental dan indah ini di desain mengikuti kaidah arsitektur morfologi bangunan sudut yaitu dengan menara kembar model gotik di sisi kanan dan kiri pintu gerbang utama ini dan bangunan gedung memanjang ke belakang yang mengesankan kokoh, besar dan indah. Gedung kuno ini menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 1903, dan selesai atau diresmikan penggunaannya pada tanggal 1 Juli 1907.

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Diponegoro dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa pertempuran lima hari di Semarang, di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan kompetai dan Kido Buati Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Sehari sebelumnya, pawang Lawang Sewu sudah “mengamankan” tempat sehingga hal2 yang tidak diinginkan bisa dihindari, sehingga pada hari “H” nya saya pribadi merasa aman dan tenang untuk memasuki gedung yang konon angker tersebut . Tiba di Lawang Sewu pada sekitar pukul 14.30, Bapak Sunarto yang menjadi pemandu kami di lawang sewu langsung mengajak kami berkeliling bangunan.

Tour dimulai dari pintu utama bawah, dimana kami disambut oleh kumpulan debu yang amat sangat tebal, suasana tampak hening dan mencekam. Memasuki gedung mata harus dibiasakan dalam gelap, tapi segera setelah terbiasa langsung kami disambut pemandangan indah - dinding di puncak anak tangga utama dihiasi kaca patri yang berpola warna-warni indah. Memasuki salah satu sayap gedung nafas menjadi sesak karena debu, dan hati menjadi tersayat melihat kondisi bagian dalam gedung indah ini. Dinding dan tiang-tiangnya masih kokoh, tapi kayu-kayu jendela dan pintu sebagian mulai lapuk. Di sana-sini tampak ruangan sempit berbau tahi kelelawar dan di lantai tampak genangan-genangan air bekas bocor. Sayang sekali. Padahal gedung ini begitu kokoh dan indah. Kalau kita keluar dan berdiri di salah satu balkonnya yang menghadap ke jalan raya, kita disuguhi pemandangan taman kota di tengah bundaran jalan.

Setelah menelusuri bagian atas kami turun ke lantai dasar dan menghitung pintu-pintu yang berjajar di sayap gedung. Pintu-pintu itu berjajar-jajar serupa, sehingga rasanya kalau kita harus berkantor di sini pasti bakalan sering tersasar! Dari lantai dasar kami menuju ke ruangan bawah tanah yang digenangi air. Alangkah sayangnya, kayu-kayu lapuk di sana-sini, walaupun secara keseluruhan ruang bawah tanah ini tampak masih kokoh.

Kemudian kami menaiki tangga menuju ke atas dan memulai penjelajahan kami dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Di gedung ini kami diperlihatkan beberapa spot menarik, yaitu tempat pembantaian tentara RI oleh tentara Jepang, tempat penyiksaan, ruang kerja hingga ruang dansa tempo doeloe. Beberapa peserta terlihat bersin-bersin karena debu, hangatnya ruangan dan juga kelembaban ruangan

Semua peserta secara serentak mengeluarkan kamera mereka, untuk meng “capture” keindahan gedung bersejarah yang sudah mulai pudar ini.
Pada akhir putaran, kami diajak untuk memasuki terowongan bawah tanah yang jaraknya kira-kira 500 meter dan tinggi sekitar 2 meter dan berbentuk huruf ‘u’ atau lebih tepatnya: turun ke bawah lurus, belok kanan, lurus, belok kanan lagi, lurus, di sebelah kiri ada bekas penjara-penjara yang sekarang sudah nyaris tak berbekas kecuali hanya ‘kamar-kamar’nya saja. Lorong panjang bawah tanah tersebut tidak ada cahaya, amat sangat gelap karena tidak ada cahaya sehingga kami hanya mengandalkan lampu senter saja. Lorong tersebut juga lembab dan basah sebatas mata kaki sehingga kaki kami menjadi basah kuyup. Beberapa menit tanpa suara dan cahaya pun berlalu, dan kamipun melangkah menyelusuri terowongan hingga akhirnya terowongan tersebut berakhir di lobang keluar terowongan dan alangkah senangnya perasaan saya ketika akhirnya kembali melihat cahaya matahari. Biarpun kaki basah kuyup tapi hati puas karena rasa penasaran karena tahun lalu saya nggak berani masuk jadi terobati.

Berbeda dengan pengalaman tahun lalu, kunjungan ke Lawang sewu kali ini tidak semenakutkan tahun lalu. Apabila tahun lalu kami (saya pribadi) diliputi rasa takut, rasa yang tidak enak, rasa berada di dunia lain, bisa melihat dan merasakan atmosphere lain, kunjungan kali ini sama sekali tidak ada perasaan2 aneh tersebut. Semuanya aman2 saja, dan tak sedikitpun kami merasa takut untuk mengelilingi tempat tersebut.

Para peserta yang sudah siap dengan camera digital dan video yang menggunakan “infra red” untuk menangkap “penampakan” yang tidak terlihat pada mata biasa agak kecewa karena tidak melihat sesuatu yang aneh dari gedung (mungkin karena long week end, penghuni dari “dunia lain” nya lagi pada liburan kali yeee, hehe). Oh ya, di Lawang Sewu ini dua peserta kami Bu Woro dan Afung pamitan karena harus kembali ke Jakarta untuk tugas berikutnya.

Penjelajahan Lawang Sewu diakhiri dengan photo bersama dan kembali ke bus untuk kembali ke hotel untuk beristirahat. Setibanya di hotel pada pukul 16.30, sebagian peserta berisitirahat, sebagian lainnya kabur untuk muter2 Semarang naik taksi melihat2 dan jalan2 santai. Pukul 19.00 malam, kami kembali lagi ke lobby dan bersiap2 untuk santap malam di restaurant Pesta Keboen.

Pesta Keboen
Restaurant pesta Keboen merupakan salah satu restaurant baru yang ciamik di semarang. Arsitektur, suasana dan lezatnya makanan restoran yang terletak di jalan Veteran No. 29 Semarang itu memang menjual keunikan dari "masa lalu". Papan nama restoran ini ditulis dengan ejaan lama: Pesta Keboen. Tak hanya itu, semua hal di dalam restoran ini dari nama menu hingga papan pengumuman, ditulis dengan ejaan a la van Ophyusen. Selain menyuguhkan makanan yang khas dan lezat, Pesta Keboen juga menyediakan tempat makan beratmosfir kuno yang nyaman, asri, dan romantis. Interior di dalam ruangan resto itu didonimasi oleh benda-benda antik, dari kursi anyaman rotan, replika sepeda ontel dari zaman kumpeni hingga radio Philips buatan tahun 1940-an ada di sini.

Kami tiba di restaurant ini pada pukul 19.30 malam. Seperti review diatas, makanan disini memang enak dan tempatnya cantik. Akan tetapi sayang seribu sayang, kami kecewa karena pesanan makanan kami untuk sejumlah 65 orang tidak mencukupi dan juga SERVICE dari restaurant yang mengecewakan. FYI, yang datang ke acara makan malam hanya 60 orang, akan tetapi entah kenapa makanannya tidak cukup dan yang lebih menyebalkan lagi, tujuh orang peserta tidak bisa makan karena makanannya habis, padahal total peserta yang datang ke restaurant hanya berjumlah (berapa yah) orang dikarenakan beberapa peserta tidak join untuk santap malam. Setelah complaint kepada manager yang ditanggapi dengan dingin2 saja maka kamipun meminta tambahan makanan dan akhirnya makanan pun ditambahkan oleh pegawai. Small thing, tapi mengganggu pikiran kami selaku pantia.

Diluar hal tersebut, apa yang terjadi disini sangat menyenangkan, karena setelah selesai makan malam, kami secara bergantian menyanyikan lagu2 tempo doeloe yang diiringi oleh music on the stagenya restaurant tersebut. Nyanyian dimulai oleh lembut suara Mbak Ninik dan Mas Agni yang duet menembangkan lagu2 cinta dengan suara mereka yang indah merdu mesra, dilanjutkan oleh nyanyian dari teman peserta Asmara yang suaranya bikin telinga perih karena nada dan iramanya kacau balau, akan tetapi untungnya karena Asmara amat sangat lucu, semua peserta tampak terbahak2 dan penuh suka cita bernyanyi bersama untuk ngebenerin lagu yang selalu keluar dari jalur tersebut. Kemudian nyanyian dilanjutkan oleh duet Adep dan Aryo yang tampak mesra berpelukan berdua, dan seterusnya mike berpindah ke tangan Deedee dengan suaranya yang serak2 hancur membawakan lagu dangdut duet dengan oleh Ninta, mengajak para peserta berjoget bersama, maka tak lama Kemudian Indie, Endang, Tiwi, Ayu yang tampak anteng pada saat jamuan makan, mendadak liar tak terkendali dan kemudian dengan ganasnya juga menyeret Richard, Munji, Alice, Anne dan teman2 lainnya untuk berkonvoi berteriak2 dan berjoget ala kereta api dan bergerak memutari restaurant sampai keluar2 segala! Oh my...beginilah „kelakuan” para peserta PTD yang katanya executive muda...ternyata begitu lepas tak terkontrol dan tak terkendali..ck ck ck. Begitu lagu selesai dan peserta mendaulat Richard dan Victor untuk bernyanyi, dengan jurus lompatan maut, secepat kilat mereka berdua lari kearah pintu agar terhindar dari paksaan peserta wanita yang mulai menggila. Akhirnya lagu penghabisan dibawakan oleh pak Amran yang menyanyikan lagu Teluk Bayur dan menutup acara makan malam tersebut pada pukul 22.00 malam.

Sekembalinya di hotel, sekitar 20 orang peserta PTD melanjutkan kegiatan pintong dengan naik taksi beramai2 ke daerah Simpang Lima yang merupakan daerah wajib kunjung di Semarang yang dipimpin oleh Ninta. Disana kami duduk lesehan di tiker sambil makan jagung bakar tiga rasa, makan soto, minum wedang jahe (yang nggak ada rasa) and ngupi2 selama kurang lebih satu jam. Suasana lebih terasa akrab dikarenakan kami duduk2 makannya didalam gelap dikarenakan mati lampu di daerah tersebut. Tak lupa kami photo2 di sekitar lokasi dan setelah selesai makan, kami pindah photo2 juga di lapangan tengah simpang lima yang pada pukul 12.00 malam sudah sunyi senyap dan sepi tanpa ada tanda2 keramaian seperti yang terlihat di lokasi yang sama di waktu pagi sampai sore hari tadi. Tak lupa spanduk digelar dan berbagai gaya dengan camera nikkon nya Victor dan Asmara. Nggak tau deh apa kita kemaren beneran di photo atau mereka pura2 motret kita aja, tapi denger bunyi „jengrek” dari kamera aja rasanya udah seneng banget :-)

Pulangnya karena taksi nggak kelihatan, akhirnya kami menyewa angkot, dengan membayar Rp 20,000 rupiah, kami diantar angkot ke hotel secara berkala (dua kloter). It was fun ! We had a great time laughing out loud..kami tiba di hotel sekitar pukul 00.30 malam dan langsung berisitirahat untuk menyambut hari terakhir di Semarang.




Photobucket


Photobucket

Photobucket

Photobucket

ddd
dThumbnaild
ddd

Plesiran Tempo Doeloe
Semarang-Ambarawa
21-22-23 Mei 2005
By: Deedee, Sahabat Museum

It takes Only One Hour,
But the memory of
your railway mountain tour
will last forever



Opening

Kegiatan Plesiran Tempo Doeloe (yang disingkat menjadi PTD) pada bulan Mei 2005 adalah PTD yang “paling” diantara semua PTD yang pernah kami adakan. Paling capek, paling ribet, paling seru, paling gila, paling menyenangkan, paling berkesan, dan ratusan paling paling lainnya karena pada bulan Mei ini kami mengadakan acara PTD tiga kali dalam satu bulan nya (baca : TIGA kali !!! pake tanda seru tiga), yaitu PTD Gambir – Ragusa pada tanggal 1 Mei 2005, PTD Istana Cipanas – Bogor pada tanggal 3 Mei 2005, dan PTD Semarang-Ambarawa pada tanggal 21-23 Mei 2005 yang baru saja kami laksanakan kemarin. Dikarenakan keterbatasan waktu, maka mohon maaf liputan PTD Gambir-Ragusa tidak kami turunkan, dan liputan PTD Istana sudah terwakilkan oleh liputan Meneer Berty di Suara Pembaruan, maka dengan senang hati saya persembahkan liputan Plesiran Tempo Doeloe Semarang-Ambarawa.

Sit back, relax, and enjoy !!!


Friday, 20 May 2005,
the final preparation...

Jum’at malam (tenang, bukan Jum’at kliwon) , kami panitia dari Yayasan Sahabat Museum berkumpul di sekretariat SM untuk mengecek persiapan terakhir acara PTD Semarang-Ambarawa. Masing2 saya, Adep, Ibu Wisda dan Pak Amran memastikan bahwa kami sudah melakukan “check list things to do” kami dan menyelesaikan tugas2 kami sebelum keberangkatan.

Adep bertugas melakukan koordinasi terakhir dengan pihak Semarang (Agung, Pak Jongkie Tio), melakukan check akhir data2 peserta, mengirimkan itinerary dan final information ke peserta melalui email, serta check ulang bahwa semua izin izin untuk mengunjungi lokasi di Semarang telah di dapat. Ibu Wisda dan Pak Amran sebagai bendahara & penanggung jawab Yayasan Sahabat Museum memonitor program, double check ticket KA, follow up ke asuransi keselamatan jiwa, menghitung budget extra dan budget tak terduga dan menyiapkan obat-obatan ringan P3K selama diperjalanan, juga memastikan agar semua stationaries termasuk kaos dan spanduk yang akan diperlukan selama acara sudah lengkap.

Sedangkan saya sendiri bertugas untuk menelpon dan mensosialisasikan ke seluruh peserta mengenai informasi yang Adep kirimkan ke peserta lewat email tersebut, mengingatkan peserta untuk melihat check list persiapan dan membawa barang-barang yang harus dibawa, juga mengingatkan peserta untuk membawa/mencatat semua nomer-nomer telepon penting yang bisa dihubungi baik di Jakarta maupun di Semarang, dan terakhir mengingatkan peserta agar tiba di Gambir on time jam 07.30 pagi. Selain itu saya juga melakukan konfirmasi akhir ke semua pihak, baik hotel, bus AC, restaurant2 tempat kami nanti akan bersantap sampai asuransi keselamatan peserta sudah terbayar semua. Oh ya, saya juga urus special request dari beberapa peserta untuk arrange penjemputan dari bandara dan pengantaran ke bandara bagi mereka yang naik pesawat terbang dan harus kembali ke Jakarta sebelum acara selesai dikarenakan tugas kantor yang tidak bisa ditinggalkan.
00.50 pagi.. Done. Everything is in order. Udah bisa tidur sekarang

Hari pertama, Sabtu, 21 Mei 2005
the beginning...

Terbangun oleh suara alarm (yang sumpah kenceng banget bunyinya) pada pukul 04.30 subuh, saya sibuk mengecek barang2 yang akan dibawa untuk persiapan acara Plesiran Tempo Doeloe yang diadakan pada hari ini.

Stationaries alias ATK (checked), megaphone (checked), name tag (ada sama Tiwi), spanduk (checked), kaos Spoor Djadoel (checked). Apalagi yah *mikir*. Hmmmm, mandi udah, gosok gigi udah, shalat subuh udah, dandan, pake lipstick and pake parfum andalan gue white musk nya bodyshop (bener, ini bukan iklan tapi emang wangi parfum ini TOB BGT looh). Ngaca bentar di kamar. Cantik (watch out baby, I’m narcist), hehehe.

Kopor dan semua bawaan yang wajib dibawa untuk perjalanan luar kota kali ini sudah lengkap. Okeh semua nya udah beres. Lirik jam, 05.30 pagi, tinggal ngeberesin sarapan pagi untuk peserta, udah bisa brangkat ke Stasiun Gambir, tapi kok ada yang aneh ya ? Oh my God, gue baru sadar, TERNYATA ADEP BELOM BANGUN sodara2 !!! Buat yang belom tau, Adep and saya living together alias tinggal dalam satu rumah yang sama karena kami berdua memang kakak adik :-) Akhirnya kami semua gonjang ganjing bangunin Adep yang masih terlelap. Lalu kamipun bagi tugas. Saya memasukkan arem2 & risoles hangat ke dalam plastik, (untuk sarapan buat para peserta kali ini udah dipesen di tempatnya bu Waluyo tetangga komplek yang tinggal di RT 002, eh tunggu dulu, penting yah dijelasin secara detail dimana bu Waluyo tinggal ?). Anyhow, ketika waktu menunjukkan pukul 06.30, kami semua sudah siap dan meluncur ke stasiun Gambir tempat starting point acara PTD Semarang-Ambarawa.
...and the train goes...

Kereta Api menuju Semarang dijadwalkan berangkat pada pukul 09.00 pagi dan peserta diminta untuk berkumpul di Stasiun Kereta Api Gambir pada pukul 07.30 WIB - on time - untuk mendapatkan sekilas briefing mengenai rencana perjalanan ke semarang yang akan memakan waktu kurang lebih 6 jam ini. Setibanya kami di Gambir, maka mulailah kami menggelar tikar untuk meletakkan sarapan arem2 dan risoles dan menggelar spanduk PTD Semarang-Ambarwa disebuah spot di Gambir sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat sign kami. Ngak sia-sia membentang spanduk, karena gak lama kemudian kamipun mulai didatangi oleh para peserta yang rupanya sudah mencari-cari spanduk kami dari tadi.

Banyak peserta PTD kali ini adalah tampang2 “lama” alias peserta2 PTD setia kami yang sudah berkali2 mengikuti acara PTD dalam dan luar kota, sebagian lagi adalah peserta2 baru yang belum saling kenal, dan sebagian lain peserta adalah para anggota SM yang biasanya jadi volunteer, tapi kali ini memutuskan untuk menjadi peserta saja. Akan tetapi dasar anak2 SM, sekali volunteer, jiwa nya tetep aja volunteer. Biarpun katanya kali ini pengen jadi peserta doang, tapi mereka tetep aja gatel pengen bantu2. Ada yang bantuin megangin spanduk, ada yang bantuin ngabsen, ada yang bantuin ngebagiin name tag, ada yang bantuin ngebagiin sarapan, ada yang ngebantuin guntingin pita untuk di iket di tas2 bagasi, dan sebagainya. Dan semua nya itu tidak luput dari jepretan camera digital yang bersliweran tanpa hentinya dari satu moment ke moment lainnya, dasar banci tampil semuahnya! Masih pagi gitu loh! Kemudian satu persatu peserta berkumpul hingga tepat pukul 08.15 pagi semua peserta (minus Ibu Woro yang belum datang karena goreng mpek2 dulu buat dimakan di kereta) tampak sudah berkumpul semua. Aura peserta wanita tampak sumringah bahagia karena ternyata pada PTD kali ini (AKHIRNYA) peserta cowoknya lumayan banyak. Ada Asmara (ini laki loh, bukan perempuan), ada Aryo, ada Pak Soewarno, ada mas Agni, ada Richard (suit suit), dan juga ada Victor (dengan camera nya yang segede gajah) yang semuanya terlihat cool and tenang (ceritanya ini kesan pertama pada awal acara-catet!).

Pada pukul 08.30, saya dan Adep pun pun membuka acara. Dengan menyatukan seluruh peserta dalam bentuk lingkaran, dan dengan sedikit berteriak karena bersaing dengan suara petugas stasiun yang menggaung dengan megaphonenya, kami mengadakan briefing acara, dan membahas itinerary perjalanan hari per hari. Pada pukul 08.45 kami berduyun-duyun naik ke lantai tiga dimana pada Spoor (peron) 1 kereta api yang menuju Semarang muncul dari kejauhan pada pukul 09.00 teng. Beberapa peserta tampak besorak sorai dan bertepuk tangan menyambut kedatangan kereta dan berebutan untuk naik dan meletakkan barang-barang bawaannya mereka (ternyata masih ada loh, peserta yang belum pernah naik kereta api). Panitia membooking satu buah gerbong yaitu gerbong 2 untuk seluruh peserta PTD, dan setibanya didalam kereta, peserta di absen kembali untuk make sure bahwa seluruh peserta PTD yang berjumlah 50 orang tidak ada yg ketinggalan. Pukul 09.40 kereta api mulai bergerak (telat banget, euy!), dan kamipun meluncur meninggalkan Jakarta.

Seperti biasa, ketika awal perjalanan, peserta yang belum saling kenal saling berdiam diri dan tidak banyak cakap. Kami melewatkan jam2 yang berlalu dengan membaca novel, mendengarkan walkman, menonton film yang diputar di KA, dan setelah itu TIDUR ! Kemudian tidur sedikit di interrupt untuk makan siang, dan setelah itu kami kembali tidur.....
...and the journey begins..…

Lima belas menit menjelang pukul 16.00, peserta dibangunkan untuk siap-siap merapikan barang-barang bawaannya karena kereta sudah hampir mendekati Stasiun Tawang, Semarang. Setibanya di Semarang, kami disambut oleh panitia Sahabat Museum yang berdomilisi di Semarang, yaitu Agung, lalu ada juga Pak Amran dari Yayasan Sahabat Museum yang sudah tiba duluan karena terbang dengan pesawat, dan kami juga disambut oleh Bapak Jongkie Tio, legendaris Semaranger, pemilik restaurant Semarang & penulis buku Semarang tempo doeloe yang bertajuk: “Kota Semarang dalam Kenangan” Setelah peserta dibagi kedalam dua bus AC besar, peserta pun memindahkan barang-barang bawaannya dari kereta api ke bis.

Bis satu terdiri dari Adep (boss SM), Adel, Agung (panitia SM Semarang), Ami, Ani (temennya Galuh) and Galuh dari Erasmus Huis, Anne, Ibu Emmi dan Ibu Rose, Endang, Lena, Ikka (special request: huruf K nya ada dua) dan mamanya Ibu Lestari (yang ternyata penulis cerpen kondang V.Lestari yang membuat kami berharap akan dijadikan tokoh utama dalam novel terbarunya), Iye TPI, Maya jilbab funky, Ibu Nana dan Bapak Soewarno (yang gantiin anaknya, Evita), Nommy VietCong, Novi dan Vira, Rina (yang baru hamil, congrats yah Rin) dan Roni, Richard sang pengacara, Sita dan Diah (sista), Ninta & Tiwi (moderators & volunteer SM yang kali ini pengen jadi peserta doang), Ibu Woro, dan Pak Amran dari Yayasan Sahabat Museum.

Sedangkan bus dua berisi satu paket Ayu, Indie, Luci dan bing! (special request : huruf b nya kecil, pake tanda seru), Ela, Asmara (yang last minute dateng gantiin Arie dari Majalah Lisa), Alice dan Olive Carrefour, Yanthi dan Mama Aryati langganan PTD, Aryo dan Dwi (dari Sampoerna), Deedee sang primadona (saya! saya!), Ibu Djuliah, Sri dan Yuni (satu keluaga), Indri, Irma dan Wahyudi (cieeeh), Sari dan Linda, Mas Sidharta dari Sonora, Mbak Terry, Diana, Ika dan Victor photographer kita, dan Ibu Wisda dari Yayasan Sahabat Museum.

Setelah peserta duduk manis didalam bis dan diabsen, maka bus mulai berjalan keliling Semarang melihat suasana siang hari kota Semarang menuju rute pertama kami, Gereja Blendug yang dipandu oleh Pak Jongkie Tio.
Gereja Blendug

Diantara sekian banyak gedung tua di kawasan Kota Lama, salah satu yang masih terawat rapi adalah Gereja Blenduk. Gereja yang didirikan pada abad ke-17 tersebut, kini digunakan sebagai tempat ibadah jemaat Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB) Immanuel. Gereja ini memiliki keunikan tersendiri di banding gereja-gereja tua lain di Semarang. Ini terlihat dari bangunannya yang memiliki ciri arsitektur Eropa klasik yang anggun dan aristokrat.

Gereja ini pernah direnovasi sebanyak tiga kali yakni tahun 1753, kemudian 1894 dan terakhir pada 2003. Setiap waktu dilakukan renovasi, selalu ditulis di batu marmer yang dipasang di bawah altar gereja. ''Setiap kali renovasi dibutuhkan waktu satu tahun, namun secara umum tidak ada perubahan pada bentuk arsitektur bangunan,'' kata Frangky Pattynama SH, MM dari Komisi Pemeliharaan dan Pembangunan Gereja Blenduk.

Gereja Blenduk memiliki denah octagonal atau denah segi delapan beraturan dengan ruang induk terletak di pusat (tengah) berbentuk kubah dan oleh masyarakat Semarang saat itu dinamakan Blenduk. Hingga sekarang masyarakat menyebut gereja yang nama aslinya belum diketahui pasti ini Gereja Blenduk.

Kerangka kubah tersebut dibuat dari konstruksi besi dengan jari-jari berjumlah 32 buah, 8 buah berukuran besar serta 24 buah berukuran kecil. Kerangka konstruksi itu dilengkapi dengan sebuah gelang baja yang berfungsi sebagai titik sentral jari-jari besi tersebut.

Ruang utama bangunan gereja terdiri dari ruang jemaat tempat melaksanakan kebaktian. Lantai Gereja Blenduk yang terbuat dari tegel tertata harmonis dengan kombinasi warna hitam, kuning dan putih. Pada sisi utara, sebuah tangga melingkar tampak kokoh terbuat dari besi yang diukir. Tangga itu difungsikan sebagai tempat berjalan menuju musik gerejawi yang diletakkan pada balkon. Di tangga tersebut terdapat tulisan dalam bahasa Belanda yang berbunyi ''Plettriji den haag''. Menurut pengurus Gereja, tulisan tersebut adalah nama perusahaan yang memproduksi tangga itu, namun tidak tertulis jelas tahun pembuatannya. Diperkirakan sama umurnya dengan awal pembuatan gereja pada sekitar abad ke-17.

Perlengkapan Perjamuan Kudus yang juga sudah sangat tua namun masih sangat bersih terbuat dari perunggu. Perlengkapan itu meliputi dua buah piala yang mempunyai tutup dan pegangan, 2 buah gelas anggur dan enam piring besar. Mimbar (tempat penyampaian Firman Tuhan) Gereja memiliki keistimewaan konstruksi yang langka. Mimbar ini tidak ditempatkan di lantai seperti umumnya mimbar di gereja-gereja lain di Indonesia, akan tetapi disangga dengan tiang segi delapan dari kayu jati dan menempel pada dinding sebelah barat menghadap ke timur. Jika melihat mimbar Gereja Blenduk ini, bisa dipastikan bahan bakunya yang terbuat dari kayu jati bahan pilihan. Warnanya yang coklat tua menyatu dengan warna kursi yang ada di dalam ruangan tempat duduk jemaat.

Sisi lain yang menunjukkan kekunoan gereja tersebut adalah sebuah Bibel (Alkitab) dalam Bahasa Belanda terletak di atas mimbar dalam usia 247 tahun atau diterbitkan pada tahun 1748. Bibel ini masih terawat rapi meski kertasnya sudah berwarna agak kecoklat-coklatan.

Gereja selalu identik dengan musik dan nyanyian. Alunan suara musik gerejawi biasanya dimainkan secara perlahan setiap kali jemaat memasuki ruang kebaktian. Untuk itu, Gereja Blenduk memiliki orgel (musik gerejawi), yang ditempatkan di balkon sebelah utara. Perlengkapan musik tersebut dibuat oleh P Farwangler dan Hammer, dua warga Belanda pada saat awal gereja didirikan.
Setelah puas mendengarkan penjelasan mengenai riwayat Gereja Blenduk dari pihak gereja, peserta dipersilahkan untuk berphoto-photo di sekitar gereja, dan setelah itu kamipun berkumpul kembali ke bis untuk menuju ke lokasi kunjungan berikutnya, Kelenteng Sam Poo Kong (early Semarang).
Kelenteng Sam Poo Kong (Revitalization)

Wilayah Sam Poo Kong seluruhnya kira2 3,2 ha (32,000 m2) yang dibagi menjadi dua dengan adanya sebuah selokan terbuka selebar 2m. Bagian pertama seluas 1,6 ha bersebelahan dengan perbukitan dan sejak semula telah difungsikan sebagai “keramat suci” untuk peribadahan dan pemujaan.
Bagunan klenteng tersebut sedang dalam tahap renovasi besar2an, yang mempunyai master plan untuk revitalization ( ). Bagian barat dari “keramat suci” hanya digunakan untuk para peziarah (gua suci, tempat bersembahyang dan memuja, kantor pengelola dan toilet umum), sedangkan bagian timurnya merupakan daerah penyangga bagi pengunjung umum (yempat periingatan, museum, restaurant, pertunjukkan dan landscape). Pada pembagunan tahap pertama, gua suci yang baru nantinya akan lebih tinggi dan lebih luas serta berventilasi lebih baik untuk menampung lebih banyak peziarah. Ruang pemujaan utama juga akan lebih tinggi dan luas dihias dengan relief dari batu alam yang menggambarkan sejarah Sam Poo Kong Taydjin saat tiba di Simongan sebagai latar belakang. Tidak diketahui kapan tepatnya bangunan renovasi ini akan selesai.

Disini kami menghabiskan waktu 45 menit memutari Klenteng, dan sebelum kembali ke bus, kami menyempatkan diri untuk berphoto di depan klenteng Sam Poo Kong tanpa spanduk! (spanduk nggak ketemu wi, next time kakak tiwi aja yah yang bawa, biar nggak ilang lagi, hehe). Karena hari sudah menunjukkan pukul 18:00 maka kami memutuskan sudah waktunya kami check in di penginapan kami, Hotel Grasia. Setibanya di lobby hotel, kami segera menuju kamar masing2 untuk istirahat sejenak, mandi & shalat karena pukul 19.30 nanti kami sudah harus siap di lobby untuk makan malam di restaurant-nya Pak Jongkie Tio, Restaurant Semarang.

Restaurant Semarang


Sayang sekali tidak ada cerita sejarah yang saya ketahui tentang Restaurant Semarang ini. Mungkin yang lain bisa membantu ?

Pukul 19.30 teng kami semua siap di lobby hotel, sudah terlihat segar setelah perjalanan dengan kereta api dan bis barusan, dan terlihat kelaparan (baca : sangat kelaparan). Kami pun segera naik ke bis dan meluncur ke TKP berikutnya, Restaurant Semarang. Tiba di Restaurant Semarang, kami langsung menuju area belakang kebun restaurant yang memang sudah di setting untuk kami, dan dikarenakan perut sudah lapar, kami mulai menyerbu makanan yang bermenu sop jagung kepiting, mie goreng, steak ayam & vegetable, nasi goreng semarang, dan tentu saja lumpia khas Restoran Semarang. Sambil makan, kami dihibur oleh penyanyi dan band beraliran keroncong yang bernuansa tempo doeloe. Tidak lama kemudian, Pak Amran bernyanyi ke depan panggung untuk menyumbangkan satu buah lagu keroncong ”Sungai Serayu” dan setelah itu Pak Jongkie Tio melemparkan dua buah kuis yang dimenangkan oleh Luci dan Ibu Nana yang juga di daulat untuk bernyanyi setelah mendapatkan hadiah door prize berupa buku dan buklet Semarang Tempo Doeloe dari Pak Jongkie. Makan malam diakhiri dengan sajian Es Rujak Puspa (Rujak Puspa yah, bukan Sari Puspa kan bing!? Hehe) yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya sejak diawal acara. Tampilan rujak ini sodara-sodara, merupakan rujak “frozen” atau yang sudah dibekukan, yang dihidangkan dalam sebuah mangkuk es krim, dan pelan-pelan mencair secara alami lalu meleleh dimulut..dan rasanya wuuiih, gurih sekali sehingga banyak peserta (termasuk saya) merasa wajib untuk memesan banyak porsi untuk dibawa ke Jakarta. Peserta juga membeli bukunya Pak Jongkie yang disertai tanda tangan beliau, antriannya kayak di launching penerbitan buku baru, hehehe. Setelah makan malam selesai, kami semua pamit sama pak Jongkie untuk kembali ke hotel.


Hotel Bellevue

Sekembalinya kami ke hotel langsung tidur ??? tentu saja tidak! Dan seperti tradisi SM yang selalu mengadakan pintong basamo (pindah tongkrongan bersama2) disetiap acaranya, maka setelah kembali ke hotel, sebanyak sekitar 20an peserta berjalan ke Hotel Bellevue untuk say hello ke teman2 SM yang menyusul ke Semarang hanya untuk ikutan naik kereta api ke Ambarawa dan tinggal di hotel Bellevue, yaitu Munji, Adel dan Malihah.
Hotel Bellevue adalah hotel yang tahun lalu kami inapi. Akan tetapi, dikarenakan kapasitas hotel tidak mencukupi jumlah total peserta kami yang berjumlah 67 orang (tambahan dari peserta yang hanya ingin ikutan Ambarawa saja), maka tahun ini kami memutuskan untuk menginap di Hotel Grasia (hanya 2 kali nafas dari Hotel Bellevue).

Setibanya di Hotel Bellevue pada pukul 22.00 malam, peserta yang menginap di Hotel Grasia dan baru pertama kali melihat Hotel Bellevue ini terbengong-bengong melihat gaya bangunan Eropa yang antik tersebut. Hotel yang dibangun pada tahun 1919 ini benar-benar sedap dipandang mata, dan beberapa dari peseta merasa sedikit “ser-seran” melihat tampilan hotel yang megah tapi unik itu. Peserta kemudian diajak berkeliling hotel oleh manager hotel dan terkagum-kagum karena melihat kamar yang mempunyai meja kerja dan juga kamar yang luasnya segede lapangan badminton.

Setelah puas berkeliling, peserta PTD kemudian duduk2 di teras hotel untuk ngupi2 dan ngeteh2 sambil ngobrol2 santai hingga pukul 24.00. Kami melewati pergantian malam sambil berjalan kaki pulang kembali ke Hotel Grasia yang berjarak sekitar 200m2 dari Hotel Bellevue, dan kembali ke kamar masing2 untuk berisitirahat.

One day passed, two more to go...



Photobucket


ddd
dThumbnaild
ddd

HARI KE EMPAT: TOO BAD SO SAD, IT’S TIME TO GO HOME
Minggu, 19 Desember 2004
Pagi hari kami sarapan di Hotel Pangeran Beach, dan seharusnya pada pukul 08.00 pagi kami meuju ke lokasi Pantai Air Manis untuk melihat tempat bersejarah Batu Malinkundang – cerita legenda si anak durhaka yang kesohor tersebut, akan tetapi, setelah mendapatkan masukan dari sopir bis dan pihak hotel bahwa kalau hujan jalanan jurang tersebut menjadi licin dan membahayakan, maka kami tidak jadi mengunjungi tempat tersebut dan menggantinya dengan lokasi pantai lain, yaitu Pantai Bungus. Sebelum ke Pantai Bungus, kami meluncur ke Pelabuhan Teluk Bayur yang bersejarah tersebut dimana konon menurut cerita Pak Amran, disinilah para perantau Minang memulai perjalanannya ke tanah Jawa yang dilepas dengan tangis keluarga, isteri dan pacar mereka …. Antah pabilo uda ka pulang (entah kapan abang akan kembali lagi). Di Teluk Bayur kami dipandu oleh Pak Amran yang konon kepergiannya ke Pulau Jawa dulu juga ditangisi Ibu Wisda dilokasi ini…( benar ga bu?) dan kembali kami photo-photo di Pelabuhan Teluk Bayur yang kapal-kapalnya raksasa tersebut (serasa photo di Titanic deh pokoknya).

Puas photo-photo, perjalanan dilanjutkan kembali ke Pantai Bungus, dimana di pantai tersebut kami pihak panitia mengadakan kegiatan ekstra “team building”.(hihi emang enak udah capek tapi masih disuruh lari-lari). Peserta di bis I diadu dengan peserta di bis II dalam sebuah game “ular naga” dimana para peserta berbaris kebelakang dalam dua kelompok yang berlawanan, dan raja (yang paling depan) harus menangkap lawannya di kelompok lain yang berbaris paling belakang. Yang paling banyak menangkap lawan lah yang menang. Permainan berlangsung amat sangat serunya, sampai-sampai beberapa peserta terjatuh jumpalitan di pasir dan tercebur air laut. Permainan kedua adalah tali temali, dimana dua kelompok yang berlawanan saling berpegangan tangan secara acak, dan harus menyatukan tangan tersebut untuk menjadi satu lingkaran utuh tanpa melepas tangan-tangan yang sudah terkait tadi. Dua kelompok tersebut harus mengulang beberapa kali sebelum satu kelompok berhasil membuat satu lingkaran dengan kerja keras teamnya.

Kemudian, sedikit kelelahan setelah berlari peserta berkumpul dan duduk lesehan di tikar di tepi Pantai Bungus sambil minum air kelapa muda segar. Disini kami mengadakan sesi evaluasi acara dan kesan-kesan peserta selama plesiran berlangsung. Sesi dimulai dari hari pertama hingga hari terakhir, dari satu empat ke tempat lain, dan disini peserta banyak sharing pengalaman-pengalaman unik dan lucu mereka selama 4 hari 3 malam ini termasuk pengalaman Eko Ananda melihat penampakan di Goa Jepang yang membuat bulu kuduk merinding. Banyak lagi cerita-cerita yang akan di sharing akan tetapi dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan, maka kami pun bersiap-siap pindah lokasi terakhir kunjungan PTD-Ranah Minang, yaitu menuju ke mesjid tertua di Padang, Mesjid Ganting.

Singgah sekitar 20 menit, kamipun melanjutkan perjalanan kembali ke Padang menuju rumah makan Soto Garuda untuk makan siang. Soto Garuda-nya lezat, gado-gadonya juga uenak tenan, dan kembali kami menyerbu masakan hingga “tambuah ciek”

Setelah makan selesai, waktu menunjukkan waktu pukul 14.00, dimana kami sudah harus memasuki airport untuk check in dan memasukan bagasi (take offnya sih sebenarnya pukul 15.25 sore tapi karena barang-barang bagasinya menjadi 3 kali lipat karena banyaknya oleh-oleh, maka kami sudah harus masuk pada pukul 14.00 siang). Setelah kelar urusan bagasi, waktu menunjukkan pukul 15.00 sore, dan kamipun ber haha hihi sejenak di airport diruangan boarding. Tak lama kemudian kamipun memasuki peswat Garuda dan take off kembali ke Jakarta.

Cerita selesai sampai disini? oh tentu tidak, sebelum check in di airport seorang teman memberi kabar bahwa Adep masuk koran “Jakarta Post” pada feature people, di kolom “face to face” di halaman 3. Di pesawat kami terkejut melihat mukanya Adep yang mengisi hampir setengah halaman tersebut dengan judul berita yang amat eye catching : “ Ade Purnama, a natural-born history lover” sehingga masuknya Adep di koran bebahasa inggris bergengsi tersebut dipamerkan oleh Deedee ke seluruh peserta sehingga keributan dan kehebohan juga dengan noraknya kami semua ingin berphoto bersama Adep. Kemudian ketika peserta sudah tenang dan pesawat sudah menempuh setengah perjalanan, peserta kembali menimbulkan huru-hara lagi dengan bersenda-gurau dan berphoto-photo didalam pesawat dengan berbagai gaya deh pokoknya sehingga pramugari sempet bt karena kami sering bolak balik berpose didalam pesawat menuju kemana arah kamera.

Untung penumpang lain tidak ada yang complaint taopi gossip yang tidak bisa dipercaya mengatakan bahwa Sahabat Museum hampir di black list oleh Garuda karena kehebohan para peserta Plesiran Tempo Doeloe Ranah Minang :-)


Setibanya di Bandara Soekano-Hatta Jakarta, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Too bad so sad that it’s time to say good bye, hiks hiks hiks, kamipun berpamitan, cium pipi kiri pipi kanan dan berpisah di bandara karena sudah dijemput oleh teman/pacar/orangtua/sodara masing-masing, dengan janji untuk berkumpul kembali untuk melihat photo-photo hasil Plesiran Tempo Doeloe Ranah Minang dan berjanji akan meneruskan tali silaturahmi diantara kami. (This is a sad moment, supposed to be moment of silence, ngetiknya sambil berlinang-linang air mata neh). Kamipun saling bertukar nomer telpon (di Ranah Minang gak kepikiran karena tak ada waktu selain behahaha-hihihi) & bertukar ID di friendster (Id nya Sahabat Museum di Friendster adalah adep_sahabat_museum@yahoo.com, silahkan bagi yang ingin mengisi testimonialnya looohh). Kami juga rencananya akan berkumpul untuk makan duren bareng di Sekretariat Sahabat Musueum alias rumahnya Adep pada hari Sabtu sore, 25 Desember 2004 (undangan terbuka untuk seluruh anggota SM asal mau ikutan patungan bayar duren yah) juga kami akan menonton and mengomentari photo photo hasil Plesiran Tempo Doeloe Ranah Minang kemarin melalui layer kaca.

Demikianlah sahabat, sekilas (sekilas? sekian halaman masih bisa dibilang sekilas?) cerita yang bisa saya sharing untuk teman-teman yang tidak mengikuti Plesiran Tempo Doeloe Ranah Minang.

Alhamdulillah kami ucapkan kepada Allah SWT karena semua peserta (termasuk panitia) PTD Ranah Minang kembali kerumah dengan selamat dan sehat bahagia.

Kepada teman-teman alumni PTD Ranah Minang, sekali lagi saya atas nama panitia acara Plesiran Tempo Doeloe naar Ranah Minang mengucapkan terima kasih tak terhingga atas partisipasi, kebersamaan, kekeluargaan, keceriaan plus kegilaan (dan ketawa-ketiwi tiada akhir) serta silaturahmi yang terjalin sangat baik selama kami mengadakan acara Plesiran Tempo Doeloe ke Ranah Minang pada tanggal 16-17-18-19 Desember 2004, sehingga acara tersebut berlangsung seru banget !!!

Terima kasih juga kami ucapkan kepada bapak Eko Alvarez yang tidak dapat hadir pada hari “H” tapi telah mebantu secara moril, juga kepada Om Zal yang telah banyak membantu Adep & Pak Amran dari mulai survey, sampai pengurusan akomodasi, transportasi (pesawat & bus), juga rumah makan, terima kasih juga kepada saudari Lina herlina.pertiwi@pirelli.com (yang udah repot-repot ngurusin tiket & hotel) juga kepada dua teman chaperone kami tercinta John & Eka yang telah menemani kami dan memberikan informasi-informasi yang menarik mengenai Ranah Minang selama diperjalanan (sampe-sampe ketika Eka yang di telpon “teman istimewa” nya pada saat menerangkan sesuatu ke peserya sempat menutup telpon tersebut saking sibuknya menjawab pertanyaan Adep & peserta yang bawel-bawel). *jadi inget muka-muka pasrah John & Eka yang digoda dan dicela oleh kami-kami ini tanpa ampun* huehehehehe

Juga mohon maaf kepada semuanya apabila ada kekurangan dan juga apabila ada salah-salah ucap dan tindakan selama acara, dan terakhir juga mohon maaf untuk yang beratnya nambah 2-3 kilo selama 4 hari 3 malem kemaren *lirik sapa yah* dan semoga kita bertemu lagi di event2 berikutnya !!!

Penuh kasih,
Deedee





Photobucket

Photo Album