PLESIRAN TEMPO DOELOE: Kelilingin Tembok Kota Jadul Kumpul di Museum Bank Mandiri, diseberangnya Stasiun Kota Minggu 15 Juni djam 07.30 di pagi hari Rp. 75 ribu/orang, sudah termasuk: (thee en koffie) (makanan ketjil) (makan siang nyam2) (Tiket masuk ke dalem Museum Bahari) (Tiket kelilingin isi Museum Bank Mandiri) (Masuk ke dalem Goedang Bagian Timoer) (diceritakan oleh Meneer Lilie Suratminto, ahlinja riwajat Batavia) (Meneer Nico van Horn, toekang arsip KITLV, fresh from Holland) (Meneer Andy Alexander, pemerhati peta djadoel Djakarta Lama) (diboncengin ojeg sepeda, kagak perlu bawa sepeda sendiri ya) (oh iya bayarnya ditransfer aja yah biar kita bisa booking ojeg sepedanya dan biar si abangnya juga siapin tenaga)
Mulai PTD (Plesiran Tempo Doeloe) yang ke-60 ini, doeit soeda dapet ditransfer ke laen-laen bank, seperti: Mandiri dan BNI 46 Jadi sekarang bisa transfer via 3 Bank: BCA-Mandiri- BNI 46 Toeloeng kassie kitaorang chabar kemana toean ataoe njonja kirim itoe wang agar kitaorang nantinja tiada poesing toedjoe koeliling diboeatnja tatkala toean dan njonja tiada bri tahoe perkara ke bank mana wang roepiah itoe melajang-lajang :)
(tolong kirim email dulu sebelomnya, ntar dibales kok, untuk dapatkan nomer urut keikutsertaan, jangan langsung transfer yah, ntar kitanya malah bingung karena dapetin itu uang kaget, bisa dikopi khan jek?!) (anak ketjil, orang moeda dan orang toea, bayarnya sama yah, oke?) (semua di-reken dengan satoe prijs/price iatoelah:Rp. 75.000/orang
(oh iya letak Museum Bank Mandiri ini: kalo naik busway, pas di halte paling ujung, yaitu Halte Stasiun Kota, pas keluar dari haltenya niiiiih, nyebrang ke kiri jalan aja, kalo ke kanan khan ke Stasiun Jakarta Kota, pokoknya keliatan kok gedungnya yg gede banget, dan di situ juga ada plang yang bertuliskan: Museum Bank Mandiri. dan kalo pada mau bawa kendaraan, ada parkir mobil dan motor juga, baik yang di depan maupun yang di dalem gedung, masuk ke belakang, banyak kok parkirannya, ok?)
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Pernah denger Tembok Kota Batavia? Pernah denger Jl.Pintu Besar? Pernah denger J.P.Coen? atau pernahkah dengar tentang Batavia yang disebut dengan Kota Tahi? Adduh kok jadi jorok gitu... emang gmana kejadiannya dan dimana tempatnya? Nah daripada bingung, sehingga jadi bengang-bengong dan planga-plongo kagak karuan, mendingan ikutin aja acaranya SAHABAT MUSEUM yang okeh punya, yaitu program:
PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tembok Kota Batavia Minggoe tanggal 15 boelan Juni tahon 2008 djam poekoel 07.30 sampe klaar djam 12an
Boeat dapet kasengan hati, bole dibilang plesir koeliling bilangan Kota Tua Jakarta ada meroepaken saboaeh obat jang mandjoer plus moestadjeb, dan djoega bole bikin badan mendjadi sihat sentausa. Maka dari itoe, kitaorang aken adjak toean en njonja beserta sobat-ande oentoek ikoetin programma jang ja-goed (yahud) poenja, ia itoe koelilingin Kota Batavia (tjikal-bakal kota Djakarta), jang diberdiriken oleh Gouverneur-Generaal J.P.Coen pada tahon 1619. Ini kota doeloenja orang kerap seboet sebagi Djajakarta, namoen di hari 30 Mei 1619, pasoekan VOC kassie serangan itoe bilangan, sehingga achirnja bole didoedoeki oleh olang walanda selama ratoesan tahoen, jakni sedjak tahon 1619 hingga tahon 1942 tatkala Tentera Dai Nippon masoep ka Noesantara.
Ini atjara jang saban saboelan sekali diadaken SAHABAT MUSEUM, boeat ini tempo aken kassie tjerita perkara itoe Tembok Kota jang dibikin oleh pedagang-pedagang VOC oentoek lindoengi diri dari pasoekan perang Banten, Cheribon, Mataram, dan pasoekan laen-laennja. Moengkin toean dan njonja sadikit bertanja perihal misih adanja itoe tembok. Kitaorang aken kassie djaminan moetoe jang bikin hati toean dan njonja goembirah, apalagi nantinja kitaorang bisa bikin foto bareng opas-opas jang sedeng berdjaga-djaga di atas Tembok Kota bagian Utara Batavia (oh iya ttg naek ke tembok ini, kita kagak perlu manjat-manjat pake tali, tetapi ada tangganya yang mengarah ke bagian jalan panjang di bagian atas Tembok Kota yang kokoh ini)
Riwajat tentang orang-orang Belanda jang notabene pedagang ini, aken ditjeritaken oleh Pak Lilie Suratminto, saorang doktor di bidang batjain nisan-nisan Belanda (dduh apa sih istilahnya? yang pasti Pak Lilie ini jago bahasa Belanda, kebetulan beliau juga seorang dosen Sastra Belanda di UI). Lantas nantinja aken ada Pak Andy Alexander, saorang pemerhati sedjarah dan dojan oprek-oprek peta djadoel, laloe ditibanken ke peta sekarang, yah teknik super-impose gitu deh, sehingga kita bisa dapet ketahui secara persis dimana letaknya Kastil Batavia, Pertempuran VOC melawan Mataram, bahkan letak persisnya rumah J.P.Coen !!! oh iya di tempat ini juga pernah terjadi sebuah kisah cinta yang memilukan, sebab-sebab bitjaraƤn jang manis jang kaloear dari montjong saorang lelaki, sahingga satoe gadis misti terdjeblos dalem djoerang kasangsarahan. Yah, kisah ttg Sarah Specx, jang di-straf (hukum) tjamboek kerana soeda bikin J.P.Coen terbakar amarahnja tatkala katahoei itoe kisah asmara jang ada betoel soeda terdjadi di roemahnja. Sang Gouverneur-Generaal Jan Pieterszoon Coen achirnja lakoeken soewatoe tindakan jang kedjem, djahat, soeka kaniaja (aniaya) orang dan kamoedian dirinja djadi soesa dan sengsara, kitaorang nantinja aken kassie liet itoe gambarnja J.P.Coen, soepaja toean en njonja bisa liet tampangnja, ditanggoeng djadi panas hati bila lietin itoe gambar (hehehe sori tentang kalimat belakang ini gue ambil dari iklan buku tentang orang yang kejam, cuma di-copy paste aja, biar dramatis :p) Lantas djoega ada Meneer Nico van Horn jang aken toeroet bertjerita tentang VOC, tenang aja Pak Nico ini jago berbahasa Indonesia, Belanda apalagi (yah iyalaaahhh!)
Djangan chawatier bila toean atawa njonja kaloe-kaloe mahoe kendarai itoe kereta angin, kerna kitaorang soeda siapken toekang ojeg sepeda jang dengen hati seneng aken kassie bontjeng, tetapi djikaloe toean atawa njonja djoega kapengen menggendjot itoe sepeda, kitaorang bersilaken, awas itoe fietsen ada sadikit berat, ati-ati djatoh, katjoewali toean atawa njonja poenja badan jang keker dan betis jang koewat oentoek gowes itoe sepeda (ddduh goweeees, Melisa banget! kring-kring, gowes, gowes, kring-kring, gowes, gowes!)
Boeat para toean, berpakeanlah setjara netjis dan parlente, siapa tahoe nantinja ketemoe dengen nona-nona manis mentjari lelaki, haiiyaaaaah! Pendeknja orang nanti tiada menjesel ikoetin ini programa, sabaliknja bisa djadi girang hati, kerna plesir koeliling Kota Tua Jakarta. Djangan loepa bawa pajoeng, andoek ketjil ataoe apalah, kali aja kegerahan. djikalaoe nanti pada temponja hoedjan ada toeroen, kitaorang aken moelain ini plesiran precies sasoedanja itoe hoedjan brenti. zo, plesiran tetep dilaksanaken zonder ampoen :)
Inget, koempoelnja di Museum Bank Mandiri jang pernahnja (letaknya) di Jl. Pintu Besar Utara, atawa kerap diseboet Jl. Lapangan Station, kerna locatienja precies diseberangnja station trein. Kitaorang djoega aken tjeritaken perkara nama Pintu Besar, jang terambil dari satoe pintoe jang besar bernama: Niuewpoort, jang diboeka saban hari hingga djam poekoel 9 malem, jang didjaga oleh schutterij (pasoekan milisie), poela ada jang bernama Pintoe Ketjil, jang sekarang mendjadi nama bilangan jang loemajan kesohor di bilangan Djakarta Kota. Kamoedian kitaorang aken kassie tjerita tentang pertempoeran jang soeda betoel terdjadi pada tahon 1629, tatkala pasoekan VOC soeda tiada poenja amoenisie boeat kassie bales itoe serangan pasoekan Mataram jang beringas, lantas marika kassie lempar itoe marika poenja kotoran kepada orang Java jang lagi semangatnja mandjatin tembok koeboe pertahanan bernama Hollandia, sakoetika kedengeran oempatan kasar dari moeloet orang Java jang treak: "O Seytang orang Ollanda de bakkalay samma tay!". walah! Makanya Kota Batavia, sempat disebut sebagai Kota Tahi pada masa penyerangan Mataram ini. Nah dimana letak kubu Hollandia ini? Sabar, nanti Pak Andy Alexander akan kasih liet lokasi itu benteng secara tepat, yang sekarang telah menjadi pusat perdagangan yang rame di Glodok !
So, toenggoe apalagi ?!! Lekas, Sigra daftarken diri toean dan njonjah sekalian sekarang djoega ke email: adep@cbn.net. id atawa hoeboengi telefoon-tangan di nummer: 0818 94 96 82 (nomer urut peserta akan diberikan setelah mendaftar, sehingga nantinya ditransfer uang sesuai dengan nomer urut) dapat ditransfer setelah mendaftar, doeit bisa ditransfer ke Bank BCA: 2371425693 BCA cab Pondok Indah atas nama ADE HARDIKA PURNAMA toeloeng dikonfirmasikan segera via sms ke 0818 94 96 82 atau via email yang seperti biasa, discan aja, lalu kirim ke adep@cbn.net. id (doeit jang soeda ditransfer tida dapet dikembalikan, tetapi bisa dioper kepada orang laen/teman)
Sekarang juga bisa ditransfer ke rekening MANDIRI: 101.000.44.34. 088: ADE HARDIKA PURNAMA dan juga ke rekening BNI 46, yaitu dgn no.rek: 0148445465 atas nama: ADE HARDIKA PURNAMA (oh iya kedua bank itu cabang Pondok Indah juga yah, yuk mari dikirim segera, makasih yah, yah)
Tjara membajarnja/ transfer, misalnja: Mas Boy ada di nomer urut 18, maka Mas Boy transfernja = Rp.75.018 (kalo di mesin ATM ketiknya Rp.75018 <<<<< angka 18 di belakang mengacu ke nomer urut) djadi ntar bajarnja boekan Rp.75.000 sadja, tetapi ditambah Rp.18 sebagi nomer urut. okeh bener yah kayak gitu, trims. oh iya kalo soeda mentransfer dan soeda pake no.urut, kabari yaaw!
Programma ini didoekoeng sepenoehnja oleh Museum Bank Mandiri Jl. Lapangan Station No.1, Kota
Memoedjiken dengen hormat, Ade Purnama (Adep) Sahabat Museum 0818 94 96 82
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Plesiran Tempo Doeloe: Tembok Kota Batavia 15 Juni 2008 07.30 - 08.00: Kumpul di Museum Bank Mandiri, Jakarta Kota 08.00 - 08.30: Penjelasan tentang Tembok Kota dan Batavia 08.30 - 09.00: Siap-siap naek Sepeda Onthel dari belakang MBM 09.00 - 09.30: Berangkat ke Museum Bahari, Tembok Kota Utara 09.30 - 10.00: Cerita Museum Bahari dan Gudang VOC dahoeloe 10.00 - 10.30: Foto-foto dari atas Tembok Utara Kota Batavia 10.30 - 11.00: Siap-siap berangkat ke Gudang Sisi Timur 11.00 - 11.30: Keliling seluruh sisi dari Gudang Sisi Timur 11.30 - 12.00: Kembali ke Museum Bank Mandiri 12.00 - 13.00: Makan Siang Abis-Abisan yeaah!
| |